Perangi COVID-19, Walkot Semarang Belajar dari Sejarah Wabah Kolera

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Selasa, 09 Jun 2020 19:07 WIB
Pemkot Semarang
Foto: Pemkot Semarang
Jakarta -

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan wabah kolera pada tahun 1821 yang mengakibatkan 1.225 warga Kota Semarang meninggal hanya dalam waktu 11 hari saja dapat menjadi pelajaran penting dalam memerangi pandemi COVID-19 yang saat ini melanda Indonesia.

Menurut dia jika menggunakan pendekatan historis dalam memandang kasus COVID-19, wabah kolera sama halnya dengan COVID-19 yang meluas ke berbagai daerah di pulau jawa. Bedanya, wabah kolera jadi salah satu pemicu terjadinya Perang Jawa atau Perang Diponegoro.

"Pada saat terjadi kolera melanda, masyarakat yang berada dalam masa sulit karena tekanan wabah, harus terbebani juga oleh sistem pajak yang dibuat oleh pemerintah kolonial, untuk meningkatkan pemasukan yang turun," ujar Hendi, sapaan akrabnya, dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2020).

"Alhasil timbul pemberontakan, yang dimulai dari perlawanan Pangeran Diponegoro untuk membatalkan pajak puasa," imbuhnya saat didapuk sebagai salah satu pembicara Webinar Bulan Bung Karno 2020 yang diselenggarakan oleh DPP PDI Perjuangan, Selasa (9/6).

Hendi menuturkan catatan-catatan sejarah tersebut pun telah dirujuk dan menghasilkan sejumlah kebijakan keringanan pajak dan retribusi di Kota Semarang. Dia menegaskan, meski pendapatan asli daerah Pemerintah Kota Semarang menurun drastis, namun nilai-nilai keadilan sosial tetap harus dikedepankan.

Maka dari itu, dia yang juga Ketua PDI Perjuangan Kota Semarang itu menegaskan jika dalam penanganan kasus virus Corona, Pemerintah Kota Semarang selalu menimbang dari dua sisi yaitu medis dan ekonomi.

"Bantuan sosial di distribusi, retribusi PKL dan Rusunawa kita gratiskan, retribusi pasar diskon 50%, tarif PDAM diskon 20% semua golongan, PBB diskon sampai 15%, dan pajak pendapatan juga kita beri penundaan pembayaran," terangnya.

"Kemungkinan New Normal yang nanti akan berjalan di bangsa kita, juga sebenarnya sama dengan PKM yang saat ini sudah berjalan di Kota Semarang sampai jilid 3. Artinya Kota Semarang sudah persiapkan lebih awal, dan kelonggarannya dilakukan bertahap," tekan Hendi.

Sebagai informasi, dalam Webinar Bulan Bung Karno 2020 tersebut, selain Hendi, hadir pula sejumlah tokoh antara lain Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Bidang Kaderisasi dan Ideologi Djarot Saiful Hidayat, Pemimpin Redaksi Historia Bonnie Triyana, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, serta Sekjen Transparency International Indonesia Danang Widoyoko.

(akn/ega)