Kisah BMW Indonesia Ditahan Trantib Madinah
Jumat, 23 Des 2005 09:32 WIB
Madinah - Wajah Sazali tampak murung dua hari ini. Bahkan, kata sejumlah temannya, Sazali sempat sakit. Ada apa? Ooo, ternyata Sazali sedang mengalami masalah cukup berat. Dia menghilangkan kendaraan dinas BMW milik Penitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Madinah. Masih ingat BMW yang pernah diberitakan detikcom sebelumnya? BMW = bebek merah warnanya, bukan mobil bermerek BMW yang mahal harganyaitu. Kendaraan beroda dua buatan 1980-an ini didatangkan ke Madinah untuk memperlancar operasional petugas haji Indonesia. Sazali, salah seorang tenaga musiman (temus) termasuk salah seorang petugas haji yang diperbolehkan menggunakan BMW itu. Saat ini, Sazali masih tercatatsebagai orang Indonesia yang menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Sudan. Bahasa Arabnya nglothok, cas-cis-cus. Tapi, pemuda berjenggotini agak pendiam. Suatu saat di hari Selasa (20/12/2005), menjadi hari yang naas bagi Sazali. Saat itu, di tengah kesibukannya sebagai pengawas katering untuk jamaah haji Indonesia, Sazali tergerak hatinya untuk segera menyambut panggilan Allah SWT. Suara azan yang dikumandangkan muazin Masjid Nabawi yang sangat merdu menggerakkan hatinya untuk salat berjamaah di masjid bersejarah itu. Saat itu, tugas Sazali untuk memantau katering sudah beres. Dia mendapat bagian memantau katering di pemondokan jamaah haji Indonesia di kawasan Markaziah, kawasan yang sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Karena itulah, setelah memantau katering di sebuah hotel, Sazali memantapkan niatnya menuju masjid Nabawi. Kontak diputar ke on, dan BMW distarter. Mesin motor menyala dan Sazali menaikinya dengan santai menuju Masjid Nabawi. Dia tahu tempat yang biasa digunakan parkir sepeda motor dan sepeda ontel (sepeda angin) di dekat Masjid Nabawi. Memang tidak ada tempat khusus parkir untuk sepeda motor. Maklum, di kota ini sepeda motor kabarnya dilarang penggunaannya. Tanpa ragu, Sazali memarkirkan kendaraan di tempat itu. Tak lupa, setelah mematikan mesin dan mengunci leher BMW, Sazali juga merantai sepeda motor Super Cup itu dengan mengikatkannya di sebuah tiang besi. Aman! Sazali bertawakal kepada Allah. Salat dilakukan secara khusyu' oleh Sazali bersama ratusan ribu jamaah haji seluruh dunia. Seusai salat, betapa kagetnya Sazali! Sepeda motor yang bila diIndonesia hanya dihargai sekitar Rp 3 juta itu raib. Padahal, motor telah dia rantai, namun masih hilang juga. Dicurikah? Begitu yang ada di benak Sazali. Wajahnya pun kusut masai, jantung dag dig dug. Kebingungan membayang. Atas saran kawan-kawannya, diapun melaporkan kejadian pahit yang dialaminya ini kepada atasan. 7.000 RiyalDuarr! Atasan malah bingung mengatasinya. Sazali juga tidak mendapat kepastian mendapatkan 'ampunan'. Bahkan menurut teman-temannya, Sazali terancam mengganti BMW yang dihilangkannya itu. "Sepertinya, Sazali akan disuruh membayar 7.000 Riyal untuk mengganti sepeda motor itu. Padahal, gaji kita (temus) hanya 6.800 Riyal," kata Atiq Fikri, temus yang kuliah di Aljazair.Bayangan harus mengganti BMW yang hilang itu terus melekat di hati Sazali. Wajar. Sebab, bila dia disuruh membayar 7.000 Riyal itu berarti honor hasil kerja kerasnya selama menjadi temus selama 70 hari lenyap sudah. Bahkan, malah nombok. Alamaaak! Beruntung, teman-temannya sesama temus mencari terobosan, agar Sazali tidak perlu mengganti motor yang hilang itu. Sejumlah temus berencana menghadapkepala Daker Madinah H. Ahmad Kartono. Selain itu, Sazali juga diminta untuk mengecek ke lokasi parkir, tempat hilangnya motor. Jangan-jangan, ada saksi yang melihat aksi pencurian sepeda motor itu. Atau jangan-jangan sepeda motor itu diambil paksa pihak Baladiyah (Trantib Pemda). Sazali pun menuruti nasihat temannya. Kamis (22/12/2005), Sazali menemui para penjaga Masjid Nabawi. Informasi pun didapat. Kabarnya, motor itu ditahan Baladiyah. Untuk memperjelas keberadaan motor, Sazali pun menemui kepala pengamanan Masjid Nabawi. Dengan bahasa Arabnya yang cas-cis-cus, Sazali pun dengan gampang mendapat informasi: sepeda motor ada di kantor Baladiyah. Plong! Hati Sazali sedikit bungah. Berarti motor tidak hilang, tapi ditahan Baladiyah. Dengan ditemani pihak Daker Madinah, Sazali mendatangi kantor Baladiyah yang berada di dekat Masjid Nabawi itu. Dan benar, BMW itu masih berdiri dengan gagahnya di kantor Baladiyah. Setelah bercakap-cakap dengan pihak Baladiyah, diketahui bahwa motor itu diambil paksa Baladiyah karena diparkir pada tempat yang dilarang. Pihak Baladiyah pun memotong rantai motor itu dan mengangkutnya ke kantornya. Setelah bernegosiasi, akhirnya Baladiyah mau mengembalikan motor itu. Sempat Baladiyah meminta Daker Madinah membayar denda. Namun, setelah dijelaskan panjang lebar dan diyakinkan bahwa sepeda motor itu dipakai untuk urusan haji dalam melayani jamaah haji Indonesia, Baladiyah pun mengerti. BMW itu pun dilepas dan diserahkan kembali ke Daker Madinah, tanpa denda apa pun. Baladiyah juga meminta Sazali tidak mengulangi perbuatannya. Sazali pun senang. Bayangan dirinya harus membayar 7.000 Riyal sirna sudah. Dengan kembalinya motor, maka honor 6.800 Riyal akan bisa dikantongi dengan selamat untuk menambah biaya hidup di Sudan. Saat ditemui reporter detikcom, Arifin Asydhad, Kamis (22/12/2005) malam, Sazali tampak sumringah. "Sudah ketemu lagi," kata dia. Dia menjelaskan bahwa baladiyah mengambil motor itu karena menganggap motor itu diparkir di tempat yang dilarang. "Sebenarnya di tempat itu, tidak ada larangan parkir. Saya juga tahu bahwa di tempat itu sering dijadikan tempat parkir bagi sepeda motor dan sepeda. Tapi, saat itu, hanya sepeda motor saya yang diparkir di tempat itu. Biasanya sih aman," ungkap Sazali. Kini, BMW itu sudah dapat dilihat kembali di parkiran kantor PPIH di Daker Madinah. Tetap dirantai. Foto:Inilah BWM Indonesia yang masih kinclong
(nrl/)











































