2 Hari Direnovasi, Gubuk Reyot Nenek Hadi di Maros Kini Jadi Rumah Layak

M Bakrie - detikNews
Selasa, 09 Jun 2020 15:18 WIB
Gubuk milik Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di Maros, Sulsel (Bakrie-detikcom).
Gubuk Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di Maros, Sulsel (Bakrie/detikcom)
Maros -

Nenek Hadi (70) kini dapat tersenyum manis setelah gubuk reyot yang ditinggalinya di wilayah terpencil di Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan, diubah menjadi rumah yang layak huni. Butuh dua hari bagi aparat TNI-Polri, pemerintah setempat, hingga relawan untuk merenovasi gubuk reyot milik Nenek Hadi.

"Kemarin sore kita buat acara kecil-kecilan di rumah beliau, syukuran rumah barunya," kata Camat Bantimurung Asrul Rifai Rachman, Selasa (9/6/2020).

Gubuk milik Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di Maros, Sulsel (Bakrie-detikcom).Gubuk Nenek Hadi sebelum dan sesudah dibangun (Bakrie/detikcom)

Asrul mengungkapkan Nenek Hadi bahkan enggan masuk ke gubuk reyot miliknya setelah direnovasi menjadi rumah layak huni. Pasalnya, Nenek Hadi merasa rumah tersebut bukanlah gubuk reyot yang dulu ditinggalinya. Dia tidak menyangka seluruh gubuk reyot miliknya telah diganti baru menjadi rumah layak huni oleh para relawan.

"Nenek Hadi awalnya tidak mau masuk rumahnya karena mengira itu bukan rumahnya. Bahkan tadinya selalu minta pulang. Beliau sangat terharu dan senang," ujarnya.

Gubuk milik Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di Maros, Sulsel (Bakrie-detikcom).Nenek Hadi di dalam gubuk miliknya (Bakrie/detikcom)

Renovasi gubuk milik Nenek Hadi itu sebelumnya dilakukan secara gotong royong oleh pemerintah, TNI-Polri, dan warga tanpa menggunakan dana pemerintah. Sementara itu, bahan bangunan diperoleh dari beberapa orang yang menyumbang secara sukarela.

"Dananya itu pribadi-pribadi kami yang dikumpul dari kantor-kantor pemerintah. Tapi ada juga sumbangan dari warga. Kami juga heran karena antusiasme warga sangat luar biasa membantu Nenek Hadi ini. Makanya kerjaan kita itu ringan dan cepat," lanjutnya.

Selain bergotong royong merenovasi gubuk, puluhan ibu-ibu juga sedari kemarin ikut menyiapkan makanan bagi para pekerja. Seluruh bahan makanannya juga diperoleh dari hasil swadaya warga yang iba dengan kisah Nenek Hadi.

"Ibu-ibu juga banyak yang datang. Mereka menyiapkan makanan untuk tukang yang bekerja selama tiga hari itu. Bahannya semua dari hasil swadaya. Sekarang ini sisa perekaman KTP-nya saja," sebutnya.

Gubuk milik Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di Maros, Sulsel (Bakrie-detikcom).Gubuk milik Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di Maros, Sulsel (Bakrie/detikcom)

Nenek Hadi diketahui memilih hidup sebatang kara di gubuk bekas penyimpanan makanan ternak karena tidak ingin merepotkan keluarganya yang juga hidup pas-pasan. Selama ini, Hadi memang tidak pernah bersuami dan tidak memiliki keturunan.

"Saya tidak sangka bisa begini. Saya sangat senang tapi juga tidak enak karena sudah banyak merepotkan orang. Tapi saya berterima kasih kepada semuanya atas kepeduliannya kepada saya," kata Nenek Hadi dalam bahasa Bugis.

Dinas Sosial yang mendampingi Nenek Hadi juga telah mendata agar ia masuk sebagai penerima program bantuan dari pemerintah yang selama ini tidak ia rasakan manfaatnya.

(nvl/nvl)