PT Palembang Anulir Vonis Mati Gembong 15 Kg Sabu, Apa Alasannya?

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 09 Jun 2020 14:59 WIB
Barang bukti sabu/ Farhan detikcom
Ilustrasi Sabu (Farhan/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) Palembang menganulir vonis mati gembong 15 kg sabu, Adnan (33). Warga Aceh Utara itu terbukti membawa 15 kg sabu yang didistribusikan secara estafet.

Hal itu terungkap dalam putusan Pengadilan Tinggi (PT) Palembang yang dilansir websitenya, Selasa (9/6/2020). Kala itu, Adnan sedang berada di rumah mertuanya di Jalan Elak, Sawang, Aceh Utara.

"Besok ada kerjaan atau disuruh nyopir dan tunggu saja di rumah jam 08.00 WIB besok saya jemput," kata Nando.

"Iya, insyaallah," jawab Adnan.

Pada 17 Agustus 2019, Nando datang menjemput Adnan dengan mengendarai mobil. Kemudian Nando mengajak Adnan ke Palembang dengan upah Rp 10 juta.

Pada 20 Agustus 2019 dini hari, mereka sampai Musi Rawas dan mengisi bensin. Sedangkan Nando pamit ke Palembang dengan kendaraan lain.

Adnan kemudian melanjutkan perjalanan. Saat melintas di Jalan Lintas Talang Gunung, Kecamatan Tebing Tinggi, Empat Lawang, terdapat razia polisi. Mobil Adnan dicek dan ia tidak berkutik karena ditemukan 15,8 kg sabu. Adnan kemudian diproses di Polres Empat Lawang dan dilimpahkan ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pada 1 April 2020, Pengadilan Negeri (PN) Lahat menjatuhkan hukuman mati. Adnan kaget dan langsung mengajukan permohonan banding. Siapa nyana, hukuman mati itu dianulir majelis tinggi.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Adnan bin Muhammad, oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup," kata majelis yang diketuai Robert Siahaan dengan anggota Teguh Harianto dan Kemal Tampubolon.

Majelis tinggi sependapat Adnan telah melakukan kejahatan luar biasa, yaitu mengedarkan ganja bukan tanaman dengan berat lebih dari 5 kg. Namun mereka menilai hukuman mati buat Adnan terlalu berat karena Nando yang memberikan order dalam kasus itu belum tertangkap.

"Setelah mempertimbangkan peranan dan tanggung jawab terdakwa dalam perkara ini, di mana bukan terdakwa yang menjadi pemilik narkotika tersebut, tetapi seseorang bernama Nando yang menyuruh terdakwa membawa barang bukti dengan janji memberikan upah," ujar majelis tinggi.

Tonton juga video 'BNN Ciduk Pengedar Narkoba di Cikarang Saat Sedang Transaksi':

(asp/elz)