Kematian Fredi Samosir
"Kenapa Pak Polisi Bunuh Papaku"
Kamis, 22 Des 2005 21:01 WIB
Pekanbaru - Suasana duka masih menyelimuti seisi rumah kontrakan Fredi Samosir yang tewas di tangan polisi dua hari lalu. Eni, istri almarhum, sejak pemakaman kemarin, masih terbaring lemah. Sementara di wajah lima anaknya yang masih bocah, masih terlihat kesedihan. "Pak polisi jahat. Kenapa Pak Polisi bunuh Papaku," ungkap Keke (9), siswa SD kelas IV anak sulung Fredi Samosir, saat ditemui detikcom di rumah kontrakan petak empat di Jl Rambutan Gang Apel, Pekanbaru, Kamis (22/12/2005). Duka dan haru masih begitu pekat di tengah keluarga, sepeninggal Fredi Samosir yang oleh Poltabes Pekanbaru dituduh sebagai gembong perampokan di sejumlah lokasi di Riau. Frenny yang disebut sebagai anak kesayangan almarhum malah sejak pagi terus menangis di pojok ruang tamu dengan mengenakan seragam merah putih sembari mendekap tas sekolahnya. "Aku mau ke sekolah tapi tak boleh kata mamak. Sekarang aku tak ikut ujian pasti tak bisa juara lagi. Ini gara gara oom polisi yang menembak papa," ujar Frenny, dengan suara serak.Keke masih menangis ketika diajak ngobrol tentang ayahnya. Berkali-kali dia bilang, pihak kepolisian jahat. Keke berkulit hitam manis ini, tak henti-hentinya menangis sembai mendekap adiknya laki-laki paling bungsu, Kessin (1). "Om, papa kami sudah meninggal. Siapa lagi yang mau bayar uang sekolah kami. Mamak aja cuma jualan sayur di pasar. Mana cukup untuk beli baju sekolah dan uang jajan kami. Pak polisi jahat ya om,"ujarnya.Enni sang ibu juga tak henti-hentinya menangis bila diteringat tentang kematian suaminya. Dia tidak bisa menerima pemberitaan media masa awal pekan lau. Judulnya lumayan seram. Di sejumlah media itu ada yang buat judul "Fredi Samosir Gempong Perampok Tewas Ditembak Polisi"."Selain kehilangan suami, yang aku pikirkan sekarang, bagaimana masa depan anak-anakku. Aku tak mau anak-anakku dicap teman-temannya sebagai anak gembong perampok. Anak sulungku selalu bertanya apa benar papanya itu penjahat seperti yang di televisi," ujar Enni dengan urai air mata.Tewasnya Fredi dengan cara mengenaskan ini, tidak dapat diterima oleh keluarga. Mereka menyakini, Fredi tewas lantaran penganiayaan berat. Wajah lembam, molut jontor, luka melepuh seperti bekas siraman air panas dan bekas biru di tangan dan leher almarhum, diyakini keluarga sebagai bukti penganiayaan berat yang dialami Fredi sebelum tewas. "Pergelangan dan leher yang biru seperti bekas ikatan, jawaban atas kebohongan yang menyebut almarhum ditembak karena melarikan diri. Lagi pula, ia dijemput baik baik dan dimasukkan ke dalam mobil. Kita sedang menyusun rencana pengaduan masalah ini ke Kapolri dan Komnas HAM. "ujar Ketua Paguyuban Marga Samosir Pekanbaru, Edison Samosir.Seperti berita sebelumnya, Fredi Samosir, ayah lima bocah itu, tewas 4 jam setelah dijemput dari anggota Poltabes Pekanbaru, Selasa lalu. Pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB, Fredi dijemput dengan sebuah mobil travel L300 dari sebuah bengkel di Jl Durian Simpang Jl Palapa Pekanbaru. Sebelum dibawa, Fredi masih sempat memberikan kunci sepeda motornya kepada pegawai bengkel dan berpesan agar memberitahu istrinya bahwa ia dijemput polisi. Untuk memastikan siapa yang membawa Fredi, S Samosir, ayah kandung Fredi bergegas ke Poltabes untuk memastikan keberadaan anaknya. "Komandan Polisi yang bernama Edi Pariadi mengatakan bahwa anakku itu buron dan masuk DPO karena perampokan perampokan. Mestinya tidak sulit mencari Fredi karena setiap hari dia mengantar anaknya ke sekolah dan ikut jualan sayur di Pasar Pagi "ujar S Samosir. Tak lama sepulang dari Kantor Polisi, S Samosir mendapat kabar bahwa anaknya sudah mati dan berada di RSUD. "Aku shok. Barusan memastikan bahwa anakku ditangkap. Tapi tiba tiba saya mendapat kabar dia sudah di kamar mayat RS. Saya melihat semua badannya rusak dan memar memar. Malah tangan dan lehernya membiru seperti bekas ikatan. Dadanya berlubang bekas peluru," kata S Samosir.
(atq/)











































