5 Perhimpunan Dokter Rekomendasikan Klorokuin untuk Pasien Corona

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 07 Jun 2020 12:59 WIB
Chemical formula of Chloroquine on a futuristic background
Foto: Getty Images/iStockphoto/Zerbor

Rekomendasi terakhir, obat hidroksiklorokuin/klorokuin fosfat tidak diberikan kepada pasien rawat jalan. Dalam akhir surat itu 5 organisasi profesi menyebutkan rekomendasi ini bersifat sementara dan dapat berubah sesuai perkembangan terkini.

Disampaikan pula di surat rekomendasi itu sejumlah fakta penggunaan obat klorokuin di Indonesia. Pertama hidroksiklorokuin/klorokuin fosfat merupakan obat yang murah, tersedia sampai pelosok Indonesia dan Indonesia sudah terbiasa menggunakan obat ini selama bertahun-tahun untuk pengobatan Malaria dan autoimun.

Lebih lanjut, beberapa negara seperti Bangladesh dan India masih menggunakan hidroksiklorokuin/klorokuin fosfat. Kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia yang masih terus meningkat sehingga membutuhkan tata laksana yang disepakati bersama dengan mempertimbangkan efektifitas, keamanan dan ketersediaan obat tersebut di seluruh wilayah Indonesia.

Obat sebagai terapi definitif COVID-19 masih belum ditemukan, walaupun beberapa antivirus sudah banyak digunakan dan dilakukan penelitian di seluruh dunia. Dari data penelitian kasus 5 organisasi profesi kedokteran tidak ditemukan hubungan klinis terhadap efek samping atau peningkatan kematian.

"Dari beberapa laporan kasus yang ada dan penelitian yang sedang dilakukan oleh PDPI, PAPDI, maka didapatkan hasil sementara tidak didapatkan hubungan bermakna secara klinis dan statistik hidroksiklorokuin/klorokuin fosfat dengan peningkatan kematian atau efek samping lainnya termasuk aritmia fatal di Indonesia," bunyi surat tersebut.

Penelitian terus dikerjakan untuk mendapatkan data yang valid tentang efektivitas penggunaan hidroksiklorokuin/klorokuin fosfat di Indonesia. Sementara itu telaah mengenai penelitian Mehra dkk yang menjadi dasar keputusan WHO tersebut memiliki beberapa kelemahan yaitu data yang besar berupa registry, tidak membedakan subjek secara usia dan komorbid, dan dosis hidroksiklorokuin/klorokuin fosfat yang digunakan dosis yang lebih tinggi seperti yang digunakan di Indonesia.

"Telaah beberapa clinical trial terhadap penggunaan hidroksiklorokuin/klorokuin fosfat di seluruh dunia masih terus dilakukan," bunyi surat rekomendasi itu.

Sebelumnya, WHO memutuskan melanjutkan uji coba obat malaria hidroksiklorokuin setelah penelitian menyebut obat itu dianggap meningkatkan risiko kematian pada pasien virus Corona, telah ditarik kembali karena masalah data.


(zlf/zlf)