Jejak dan Derap Peradaban Islam (23)

Rumah Sakit Percontohan (3)

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Minggu, 07 Jun 2020 07:00 WIB
Prof. Nasaruddin Umar
Foto: Ilustrasi: Luthfy Syahban/Nasaruddin Umar
Jakarta -

Rumah sakit yang layak disebut percontohan ialah Rumah Sakit Marrakesh, yang didirikan oleh amirul mukminin Manshur Abu Yusuf, raja Muwahhidin di Maghrib (Marocco). Rumah sakit Marrakesh diambil dari nama taman luas Marrakesh, lahan terbaik yang dianggap tepat membangun rumah sakit. Rumah sakit ini mirip kualitas bangunan istana. Ada taman air mengitari seluruh bangunan rumah sakit, di samping empat buah kolam yang di bagian tengahnya terdapat marmer putih, juga dihamparkan permadani indah dari berbagai jenis wol, katun, sutera, kulit dan lain-lain.


Seperti rumah sakit lain di Bagdad dan di Damaskus, Rumah Sakit Marrakesh juga didirikan apotek dan laboratorium untuk meramu obat-obatan. Para pasien disediakan baju tidur malam dan siang sebagaimana lazimnya rumah sakit modern saat ini. Pasien juga diberi uang cash seusai menjalani rawat inap, terutama dari kalangan yang tidak mampu demi untuk memberi kemudahan sang pasien. Rumah sakit ini tidak terbatas hanya untuk orang-orang miskin saja tapi juga untuk orang kaya. Yang menarik dari rumah sakit ini ialah mendapat perhatian khusus dari raja. Bukan hanya dari segi pendanaan tetapi juga perhatian secara pribadi raja kepada para pasien. Setiap hari jum`at Amirul Mukminin menginspeksi pelayanan rumah sakit sekaligus mengunjungi pasien.

Rumah sakit lain yang layak disebut rumah sakit percontohan ialah rumah sakit yang dibangun oleh Khalifah Harun Al-Rasyid berkuasa. Rumah sakit ini betul-betul diperhatikan oleh Raja. Cucu sang raja bernama Ibnu Bahtishu bersama dengan dokter istana bernama Jibril untuk menangani membangun Rumah Sakit Bagdad. Pada akhirnya rumah sakit ini berkembang menjadi sebuah pusat kesehatan yang amat penting. Salah seorang tokoh di balik rumah sakit ini ialah Al-Razi, seorang ahli penyakit dalam termasyhur termasyhur di dunia Barat hingga saat ini.

Selain Marocco, di Mesir sebagai salah satu Negara Afrika juga sudah mengembangkan rumah sakit modern yang dapat dijadikan contoh bagi kawasan sekitar Afrika bagian tengah. Kemajuan dunia kedokteran di Mesir tidak kalah dengan pusat-pusat kerajaan dunia Islam lainnya sudah begitu canggih. Dalam tahun 872 M, Ahmed Ibnu Tulun membangun rumah sakit
Al-Fusta di Kota Al-Fustat, sekarang Kairo. Rumah sakit ini juga sudah memperlakukan pasien sebagai obyek yang harus didekati secara manusiawi. Tidak boleh hak-haknya sebagai manusia, meskipun sudah dalam keadaan sakit parah, tetapi harus diindahkan. Euthanasia sudah mendapat perdebatan luas di kalangan dokter dan para ulama Fikih saat itu. Mestikah pengobatan tetap diteruskan atau dihentikan ketika sang pasien diketahui sudah amat sangat kecil kemungkinannya untuk tertolong. Karena itu rumah sakit selalu mengembangkan wacana-wacananya bersama para ulama.


Rumah sakit lain yang layak disebut di sini ialah rumah sakit Al-Qairawan, yang dibangun oleh Pangeran Ziyayadad Di Tunisia, dalam 830 M. Rumah sakit Al-Qayrawan di wilayah Kota Al-Dimnah. RS ini sudah menerapkan pemisahan antara ruang tunggu pengunjung dan pasien. Sistem kebersihan ruangan perlakuan secara manusiawi bagi para pasien juga terlihat di rumah sakit ini. Masih banyak lagi rumah sakit lain di negara-negara dan atau pusat-pusat kerajaan Islam dalam era kejayaan Islam telah berdiri tegak di tempat-tempat umum.

(nwy/nwy)