Riset IPB University: Stimulus di Sektor Pangan Kunci Solusi Dampak Corona

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 07 Jun 2020 04:16 WIB
Kampus IPB/ipb.ac.id
Foto: Kampus IPB/ipb.ac.id
Jakarta -

Pandemi Corona (COVID-19) menimbulkan dampak pada ekonomi yang cukup massif akibat pembatasan pergerakan masyarakat baik internasional maupun lokal. Tim dari IPB University lalu membuat kajian ekonomi dan pangan untuk mengetahui dampak pandemi.

Kajian dilakukan dengan pendekatan Computable General Equlibrium (CGE) recursive dynamic. Ada empat skenario yang dikaji dalam model CGE yakni: skenario berat, skenario sangat berat, skenario sangat berat dengan dampak pesimis dari pemberian stimulus ekonomi, dan skenario sangat berat dengan dampak optimis dari pemberian stimulus ekonomi.

Tim kajian ini diketuai Dr Widyastutik dengan anggota R Dikky Indrawan, PhD; Dr Heti Mulyati; dan Syarifah Amaliah, MAppEc. Hasil kajian disampaikan pada webinar The 13th IPB Strategic Talk yang diselenggarakan oleh Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS), IPB University pada Jumat (5/6).

Simulasi menangkap penurunan produktivitas sektor pertanian, manufaktur, dan jasa. Ada risiko jika terjadi fenomena iklim ekstrem seperti El Nino, guncangan permintaan ekspor, hingga fenomena migrasi kota ke desa. Keempat skenario tersebut memprediksi dampak terhadap ekonomi melalui indikator makro, indikator sektoral, sektor pertanian, distribusi pendapatan rumah tangga dan dampak pada wilayah produsen dan konsumen pangan.

Hasil simulasi dari keempat skenario tersebut menunjukkan kemungkinan penurunan ekonomi yang cukup berat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Dibutuhkan kebijakan yang memprioritaskan logistik bahan pangan lebih dari 70%. Sebab sektor pangan ini juga jadi basis penyerapan tenaga kerja.

Stimulus ekonomi di pedesaan sangat diperlukan untuk menyelamatkan sektor yang bergerak khususnya pangan. Jaminan ketersediaan input pertanian seperti pupuk, obat-obatan dan sarana prasarana pertanian juga sangat diperlukan untuk menjamin operasional sektor pertanian.

Kebijakan bansos, relaksasi kredit, subsidi bunga kredit untuk input di sektor pertanian menjadi salah satu pilihan kebijakan bagi pemerintah. Inovasi dalam produksi pertanian berbasis digital merupakan alternatif pilihan ketika diterapkan physical distancing seperti greenhouse maupun open field.

Pada sektor peternakan dan perikanan, kebijakan yang dapat dilakukan adalah bantuan pakan ternak, alat tangkap, serta sarana dan prasarana perikanan. Inovasi berbasis digital juga dapat dilakukan dalam pemasaran baik untuk sektor pertanian maupun UMKM olahan makanan lainnya.

Optimalisasi kartu prapekerja menjadi mitigasi terhadap penurunan konsumsi dan pendapatan rumah tangga di pedesaan maupun perkotaan. Alternatif kebijakan lain adalah kebijakan jaringan pengaman sosial dan pengalihan peruntukan dana desa menjadi program padat karya berlandaskan prinsip transparan dan akuntabel. Stimulus ekonomi mampu menahan laju dampak penurunan terhadap produksi pangan.

Terkait kajian ini, Prof Dr Bustanul Arifin selaku pembahas menyoroti ketersediaan stok pangan. Dia mengatakan stok beras mulai menipis.

"Stok beras kita pada bulan Juni 2020 sudah mulai menipis yakni 1,5 juta ton. Diperkirakan hingga bulan Agustus stok beras akan menggerus di masyarakat, selanjutnya titik kritis akan terjadi pada bulan November-Januari 2021," kata Bustanul dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (6/6/2020).

Pembahas lainnya, Prof Dr Hermanto Siregar menyarankan agar semua potensi dimanfaatkan untuk ketahanan pangan. Potensi itu di antaranya memanfaatkan lahan pekarangan rumah, lahan pasang surut, dan lahan tidak produktif. Selanjutnya memberikan stimulus yang lebih jelas dan efektif yakni memberikan benih dan pupuk bagi petani.

"Skenario yang dapat dilakukan untuk menyerap tenaga kerja adalah menumbuhkan sektor pertanian di desa dengan menggunakan inovasi dan teknologi padat karya, melakukan pengolahan dan processing untuk menambah nilai tambah di setiap komoditas. Terdapat banyak sektor yang dapat dijadikan tumpuan untuk menghidupkan sektor lainnya," papar Hermanto.

Sementara itu, Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria menyatakan IPB University terus mendorong agar kebijakan yang ada di Indonesia baik kebijakan stimulus, pembatasan sosial berskala besar (PSSB), maupun relaksasi harus berbasis pada saintifik. Dia yakin science-based policy akan lebih akurat, tepat, dan efektif sekaligus memberikan solusi.

"Hasil-hasil riset di atas menyebutkan efektivitas stimulus ekonomi akan menjadi kunci sejauh mana Indonesia akan pulih atau tidak dari krisis ini. Berkat kolaborasi dari kita semua perguruan tinggi, pemerintah dan para pengusaha akan terwujud pemulihan. Dan lebih penting lagi kita harus selamatkan desa sebagai last resort dan sebagai tumpuan hidup masyarakat Indonesia," ungkap Arif Satria.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, yang turut serta dalam acara Strategic Talk ini mengatakan, besarnya dampak ekonomi membutuhkan langkah antisipasi yang besar dan cepat. Upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menangani dampak COVID-19 yaitu kebijakan stimulus diberikan untuk mengurangi dampak ekonomi terutama pada kelompok rentan dan dunia usaha supaya tidak sampai pada kebangkrutan dan agar kehilangan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat tidak melebihi batas toleransi.

Ada empat tahap respons kebijakan menghadapi COVID-19 yaitu penguatan fasilitas kesehatan, melindungi kelompok masyarakat rentan dan dunia usaha, mengurangi tekanan sektor keuangan dan program pemulihan ekonomi pasca pandemi. Arah kebijakan pasca pandemi COVID-19 di antaranya revitalisasi sistem pangan, pemenuhan kebutuhan pasar dan pemulihan lapangan kerja di sektor pertanian dan perikanan.

(jbr/dwia)