Insiden Penyerangan Mapolsek Daha Selatan Jadi Perhatian Khusus BNPT

Muhammad Risanta - detikNews
Sabtu, 06 Jun 2020 22:21 WIB
Kepala BNPT
Foto: Muhammad Risanta-detikcom
Jakarta -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia Komjen Pol Boy Rafli Amar meminta semua pihak memberikan perhatian khusus pada generasi muda agar tak keliru mengartikan perjuangan atas nama agama. Hal ini seperti halnya penyerangan di Mapolsek Daha Selatan, beberapa waktu lalu.

"Kejadian insiden berdarah di Daha Selatan, pelakunya anak muda. Ini pasti ada kekeliruan berjuang atas nama agama dan menebarkan kebencian bukan kepada tempatnya, ini yang harus kita kaji bersama serta evaluasi. Agar kedepannya generasi muda tidak terjebak dalam situasi seperti itu, jangan sampai ada kejadian berdarah lagi," tegas Boy Rafli Amar, usai menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah tokoh agama dan pemuka masyarakat, di VIP Room, Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Sabtu petang (06/6/2020).



Selama satu hari penuh, Kepala BNPT melakukan serangkaian kunjungan di Daha Selatan dan Polres Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalsel, merupakan supervisi kasus penyerangan Polsek Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) pada 1 Juni lalu yang menewaskan anggota Polri, Leonardo Latupapua. Boy Rafli Amar sendiri sempat melakukan pertemuan tertutup bersama Forkopimda setempat, termasuk dengan Bupati Hulu Sungai Selatan, H.Achmad Fikry.

Dalam supervisinya, Kepala BNPT didampingi Deputi 1 Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, Deputi 2 Irjen Pol Budiono Sandi, Direktur Gakkum BNPT, Brigjen Pol Eddy Hartono dan Direktur Penindakan BNPT, Brigjen Pol Torik Triyono.

Usai menggelar pertemuan di Kota Dodol Kandangan, Kepala BNPT mengelar juga pertemuan khusus dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalsel di Bandara Sjamsudin Noor, Banjarbaru. Kepala BNPT meminta kepada pengurus FKPT Kalsel, untuk menguatkan kepengurusan dengan merangkul para ulama untuk pencegahan radikalisme dan terorisme.

"Kasus Daha Selatan menjadi atensi kita bersama, jadi pelajaran penting kita. Karena kita harus meluruskan pemikiran generasi muda kita agar terhindar dari paham-paham yang keliru. Karenanya dukungan ulama untuk pencegahan radikalisme dan terorisme sangat besar perannya di masyarakat," tuturnya sebelum meninggalkan Banjarbaru.



Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel Hafiz Anshari, mengatakan kasus di Daha Selatan menjadi catatan penting bersama. Dia juga menilai bahwa Kalsel yang awalnya dianggap aman ternyata juga terdapat kegiatan teroris.

"Bahwa Kalsel sekarang bukan zona aman dari kegiatan teroris, dan ternyata ada kegiatan teroris ini. Karenanya kami sangat sependapat dan satu pandangan dengan apa yang dikatakan Kepala BNPT, kegiatan terorisme ini adalah suatu kegiatan yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup dan bernegara kita. Karenanya kewajiban kita semua untuk melakukan penanggulangan," kata Hafiz.

(dwia/dwia)