PBNU: Demo Rusuh George Floyd Menguak Bobrok Demokrasi AS di Era Trump

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 06 Jun 2020 12:07 WIB
Ketua Umum PBNU sekaligus Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK), Said Aqil Siradj bersama sejumlah tokoh lintas agama hadir dalam acara Pengukuhan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan di Jakarta, Sabtu (11/1/2020). Acara tersebut dihadiri oleh tidak kurang dari 20 ormas dan 280 tokoh agama.
Ketum PBNU Said Aqil Siroj (Ari Saputra/detikcom)

Dia menilai keadilan, persamaan hak, pemerataan, dan perlakuan tanpa diskriminasi terhadap seluruh kelompok masyarakat merupakan nilai-nilai demokrasi yang gagal dicontohkan AS. Alih-alih menerapkan nilai demokrasi, lanjut Said Aqil, AS justru menerapkan standar ganda dalam isu HAM, perdagangan bebas, dan terorisme.

Kendati demikian, NU tetap menganggap demokrasi adalah sistem terbaik saat ini. Said Aqil menyebut demokrasi sejalan dengan nilai dalam Islam.

"Nahdlatul Ulama (NU) memandang bahwa demokrasi masih merupakan sistem terbaik yang sejalan dengan konsep syura di dalam Islam," ujarnya.

"Namun NU menolak penyeragaman demokrasi liberal ala Amerika sebagai satu-satunya sistem terbaik untuk mengatur negara dan pemerintahan," lanjutnya.

Berkaca dari kasus George Floyd, NU berharap isu rasialisme ini bisa menjadi renungan serius. Semata-mata agar kerusuhan serupa tak terjadi di negara lain.

"Nahdlatul Ulama memandang bahwa kejadian kerusuhan rasial di Amerika saat ini perlu menjadi bahan refleksi serius agar peristiwa serupa tidak terulang di negara mana pun," tuturnya.

Sebelumnya, diketahui bahwa AS sedang dilanda gelombang demonstrasi yang memprotes kematian George Floyd. Floyd adalah seorang pria kulit hitam yang bekerja sebagai sekuriti restoran.

Floyd ditangkap polisi Minnesota dan lehernya ditekan dengan lutut hingga kehabisan napas dan meninggal pada 25 Mei. Empat polisi yang bertanggung jawab atas kasus ini pun dipecat dan sedang menjalani sidang dakwaan.

Halaman

(rdp/jbr)