Ketua MPR: TNI Harus Jadi Garda Terdepan Tangkal Komunisme

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 06 Jun 2020 10:49 WIB
Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia bagi PKI dan larangan menyebarkan atau mengembangkan Paham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme masih tetap berlaku.

TAP MPRS yang ditandatangani Ketua MPRS Jenderal TNI AH Nasution tersebut harus tetap dipertahankan sampai kapanpun, karena terbukti telah menjadi benteng tangguh yang menghalau paham komunisme maupun Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit kembali di Indonesia.

"TNI sebagai penjaga kedaulatan bangsa dan negara, harus senantiasa menjadi garda terdepan dalam menjaga ideologi Pancasila dari serangan ideologi transnasional, seperti komunisme. Siapapun yang hendak mengubah Pancasila, membangkitkan komunisme maupun memasukan ideologi transnasional lainnya, selain akan berhadapan dengan rakyat juga akan berhadapan dengan TNI sebagai anak kandung rakyat Indonesia," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2020).

Hal itu ia ungkapkan saat bertemu Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, pada Jumat (5/6/20).

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan saat mengemban amanah sebagai Ketua DPR RI pada tahun 2019, dirinya pernah menerima Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Forum tersebut jadi wadah tempat berkumpulnya para anak-cucu yang orang tuanya dari TNI dan jadi korban kekerasan di masa lampau, serta anak-cucu yang orang tuanya pernah terlibat dalam berbagai gerakan.

Seperti Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), hingga Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Dalam forum tersebut, mereka bersepakat tak menjadikan konflik kekejaman yang melibatkan orang tua mereka di masa lalu menjadi warisan konflik di masa kini ataupun mendatang. Forum tersebut menjadi salah satu penanda bahwa bangsa Indonesia sudah menutup berbagai luka sejarah yang diakibatkan dari berbagai kejadian di masa lalu, termasuk G30S/PKI," jelas Bamsoet.

"Membangkitkan kembali komunisme, sama saja dengan membuka luka sejarah sekaligus membuka peluang terjadinya disintegrasi dan perpecahan bangsa," imbuhnya.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan sejarah seharusnya sudah mengajarkan seluruh anak bangsa untuk tidak kembali terjerumus ke dalam lubang yang sama. Berbagai aktivitas PKI di masa lalu, jelas menunjukkan bahwa paham komunisme bertentangan dengan Pancasila dan tidak cocok hidup di tanah Indonesia.

"Bangsa Indonesia sudah punya Pancasila yang digali oleh Bung Karno dari jati diri bangsa. Pancasila selalu melindungi bangsa yang majemuk ini dari perpecahan. Keberagaman suku, agama, ras, maupun antargolongan mampu dipersatukan Pancasila menjadi kekuatan bangsa. Karena itu, siapapun yang bermain api mencoba membangkitkan komunisme, patut dianggap sebagai musuh negara yang menginginkan bangsa kita hancur berantakan. Rakyat bersama TNI tak akan membiarkan hal itu terjadi," pungkasnya.

(mul/mpr)