Pascakonflik Poso, Terkumpul 200 Senjata & 2.080 Amunisi
Kamis, 22 Des 2005 15:47 WIB
Jakarta - Penyidikan kasus kekerasan di Poso terus dilakukan. Dari hasil sweeping yang digelar, sebanyak 200 senjata, 2.080 amunisi, dan 58 granat berhasil terkumpul. "Itu adalah hasil sweeping terhadap senjata dan bahan peledak pascakonflik," kata Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS dalam rapat konsultasi dengan Tim Pemantau Poso di Komisi I, Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (22/12/2005). Dalam pantauannya, Widodo AS menyatakan bahwa kekerasan di Poso bukanlah kasus komunal. "Ini kriminal murni," cetus dia. Karenanya, penyidikan kasus kekerasan di Poso seperti penembakan, pemboman, dan mutilasi masih terus dilakukan. Orientasi penuntasan kasus ini, menurut Widodo, adalah percepatan penuntasan kekerasan , penegakan hukum yang konsisten dan tegas serta penuntasan masalah sosial yang terjadi. Sebab, sejak 20 Desember 2001, yakni adanya perjanjian Malino, keadaan Poso secara umum damai. "Tapi tetap tidak menampik adanya aksi kekerasan sampai sekarang," tambahnya.Sementara itu, Satgas Poso yang dibentuk pada 23 November lalu, selain untuk mempercepat pengungkapan semua kasus hukum di Poso, satgas ini juga bertanggung jawab terhadap pembinaan sosial, penciptaan keamanan, percepatan rehabilitasi dan intelijen terpadu untuk deteksi dini kekacauan. Satgas dengan masa tugas selama 3 bulan ini merupakan implementasi dari Inpres mengenai penuntasan masalah Poso pada Oktober 2005.
(wiq/)











































