Mobile GPS Korsel yang Jokowi Bilang Bisa Lacak Corona Lebih Agresif

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 04 Jun 2020 21:18 WIB
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel (KCDC) total, menurut sudah 1.401 pasien virus Corona yang dinyatakan sembuh.
Foto ilustrasi suasana di Korsel (Getty Images/Chung Sung-Jun)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin agar pelacakan kasus COVID-19 lebih agresif memanfaatkan teknologi. Salah satu rujukan Jokowi adalah pelacakan menggunakan mobile GPS ala Korea Selatan.

Dilansir CNN, diakses detikcom pada Kamis (4/6/2020), pelacakan menggunakan aplikasi sistem pemosisi global ini mulai digunakan di Korsel pada pertengahan Maret, di Daegu dan Gyeongsang Utara, dua lokasi yang dulu sempat dilanda penularan COVID-19 terparah di Korsel, bahkan di dunia.

Latar belakangnya, saat itu ada lebih dari 2 ribu orang yang positif COVID-19 di Daegu dan Gyeongsang Utara menunggu perawatan rumah sakit. Dalam kondisi itu, pemerintah menyuruh orang yang positif COVID-19 untuk menerapkan karantina mandiri sembari menunggu ketersediaan ranjang rumah sakit.

Namun ternyata banyak warga Korsel yang bandel. Saat itu banyak yang melanggar karantina mandiri. Warga yang seharusnya melakukan karantina mandiri malah jalan-jalan ke mana-mana. Maka aplikasi ini lahir untuk mendisiplinkan masyarakat.

Cara kerjanya, aplikasi ini akan memonitor orang yang dikarantina. Bila mereka pergi dari lokasi karantina, sistem akan mengaktifkan alarm.

COVID-19 Smart Management System (COVID-19 SMS), begitulah pemerintah setempat menamainya. Ini bukan sekadar aplikasi melainkan suatu sistem. Sebelum sistem ini ada, Korsel melakukan pelacakan kontak kasus COVID-19 secara manual. Namun setelah COVID-19 SMS hadir, maka seluruh proses contact tracing didigitalisasi.

COVID-19 Smart Management System (Situs Smart City Korea)COVID-19 Smart Management System (Situs Smart City Korea)

"Sistem telah membuat pelacakan kontak lebih cepat dan lebih ringan," kata Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korsel (KCDC), Park Young Joon, dalam keterangannya, dilansir situs web pemerintah Korsel, Smart City Korea, tertanggal 13 April 2020.

Sistem ini diklaim mampu mempersingkat 24 jam pelacakan kontak (contact tracing) menjadi 10 menit saja. Sistem ini menyediakan analisis rute penularan, deteksi hotspot penularan, namun tetap melindungi data pribadi lantaran butuh persetujuan otoritas sebelum pihak berkepentingan mengakses data orang yang hendak dilacak.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2