Melihat Lagi Kasus Dugaan 'Dagang Keadilan' yang Jerat Nurhadi

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 04 Jun 2020 13:55 WIB
Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, ditahan KPK (Ibnu Hariyanto/detikcom)
Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, ditahan KPK (Ibnu Hariyanto/detikcom)
Jakarta -

Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, kini meringkuk di tahanan KPK. Keduanya dibekuk KPK setelah buron lebih dari 100 hari. Apa sebenarnya yang membuat mereka berurusan dengan KPK?

Berdasarkan catatan detikcom, Kamis (4/6/2020), kasus yang diurus Nurhadi adalah kasus perdata antara PT Kawasan Berikat Nusantara (PT BKN) dan PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT). PT BKN adalah BUMN.

Pada 2010, PT MIT yang berada di kawasan di dalam BKN bersengketa hingga masuk meja hijau. Di tingkat kasasi, PT MIT kalah sehingga mengajukan permohonan PK.

Untuk mengurus perkara itu PT MIT melalui direkturnya, Hiendra Soenjoto memberikan cek sebanyak 9 lembar pada Rezky. Selain mengurus PK, Hiendra meminta agar eksekusi lahan PT MIT di lokasi milik PT KBN dapat ditangguhkan. Cek itu kemudian dijaminkan dengan nilai Rp 14 miliar.

"Akan tetapi, kemudian PT MTI kalah dan karena pengurusan perkara tersebut gagal maka tersangka HS (Hiendra Soenjoto) meminta kembali 9 lembar cek yang pernah diberikan tersebut," ucap Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat mengumumkan Nurhadi sebagai tersangka pada Desember 2019.

Selain itu, pada 2015, ada perkara lain, yaitu gugatan perdata terhadap Hiendra atas kepemilikan saham PT MIT. Perkara ini dimenangkan Hiendra hingga tingkat banding. Perkara ini rupanya turut diurus Nurhadi melalui Rezky.

"Diduga terdapat pemberian uang dari tersangka HS (Hiendra Soenjoto) kepada NHD (Nurhadi) melalui tersangka RHE (Rezky Herbiyono) sejumlah total Rp 33,1 miliar," kata Saut.

"Transaksi tersebut dilakukan dalam 45 kali transaksi. Pemecahan transaksi tersebut diduga sengaja dilakukan agar tidak mencurigakan karena nilai transaksi yang begitu besar. Beberapa kali transaksi juga dilakukan melalui rekening staf RHE," imbuh Saut.

Selain itu, KPK rupanya juga mengusut penerimaan gratifikasi yang diduga dilakukan Nurhadi melalui Rezky pada kurun Oktober 2014-Agustus 2016. Total penerimaan gratifikasi sekitar Rp 12,9 miliar terkait dengan penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian.

"Penerimaan-penerimaan tersebut tidak pernah dilaporkan oleh NHD kepada KPK dalam jangka waktu 30 hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan gratifikasi sehingga, secara keseluruhan diduga NHD melalui RHE telah menerima janji dalam bentuk 9 lembar cek dari PT MTI serta suap/gratifikasi dengan total Rp 46 miliar," kata Saut.

Lalu siapakah Nurhadi? Nurhadi dan istrinya, Tin Zuraida sama-sama menjadi PNS di lingkungan MA sejak awal 1980-an. Nurhadi lama menjadi Kepala Biro Hukum dan Humas, sedangkan Tin lama berkiprah di Pusdiklat MA.

Puncak karir Nurhadi adalah Sekretaris MA periode 2011-2016. Ia lengser setelah diterpa kasus jual-beli perkara. Beda Nurhadi, karir Tin malah makin moncer. Ia dipercaya menjadi Staf Ahli MenPAN-RB.

Meski hanya PNS, kekayaan kedua pasutri itu mencengangkan. Mereka memiliki rumah di Jalan Hang Lekir V, Kebayoran Baru, Jaksel. Dari rumahnya, cukup jalan kaki ke Senayan City tidak sampai 2 menit.

Harganya? Di website jual-beli rumah, rumah di jalan tersebut dijual pada harga Rp 30-50 miliar.

Tidak hanya itu, mereka tercatat memiliki rumah di bilangan Patal Senayan. Soal harga, lebih mahal dibanding rumah yang ada di Jalan Hang Lekir.

Pekerjaan boleh saja sama-sama PNS. Tapi keduanya ternyata juga memiliki sebuah vila megah dan mewah di kawasan Megamendung, tidak jauh dari Pusdiklat MA. Kolam renang serta halaman asri menghadap Gunung Salak menjadikan orang bisa berlama-lama di vila itu.

Di luar aset rumah, Nurhadi tercatat punya kekayaan bergerak senilai puluhan miliar rupiah. Dari logam mulia hingga surat berharga. Jam tangannya tidak ada yang murah. Salah satu koleksinya Richard Mille, yang satu unit bisa tembus Rp 2 miliar. Nurhadi memiliki lebih dari satu unit.

Saat menikahkan putrinya, Lia dengan Rezky, pesta mewah digelar di Hotel Mulia, Senayan. Suvenir iPod dibagi-bagikan kepada tamu undangan. Penyanyi internasional menjadi weeding singer.

Dengan kekayaan aset di atas, mobil Nurhadi tidak perlu diceritakan. Tidak mungkin keduanya menaiki mobil LCGC atau di bawah harga Rp 200 juta. Jumlahnya? Masih diselidiki KPK.

(asp/tor)