Buku Riyadhus Shalihin, Tamannya Orang-orang Shalih

Rosmha Widiyani - detikNews
Kamis, 04 Jun 2020 08:48 WIB
Tumpukan buku di rak biasanya memiliki pembatas berupa besi tipis atau kotak kecil. Seorang seniman di Jepang bernama Monde membuat pembatas buku berbentuk lorong gang.
Foto: Boredpanda/ilustrasi buku
Jakarta -

Buku Riyadhus Shalihin mungkin tidak asing bagi muslim yang gemar mencari tahu. Kitab ini tersedia dalam bentuk hardcopy dan softcopy untuk memudahkan masyarakat mempelajari Islam.

Sepanjang sejarahnya, Riyadhus Shalihin memang menjadi salah satu rujukan utama. Ditulis dalam bahasa Arab, kitab ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa tentunya termasuk Inggris.

Terjemahan Riyadhus Shalihin dalam bahasa Inggris ditulis Muhammad Zafrula Khan yang terbit pada 1975. Bagian kata pengantar ditulis profesor bidang studi Arab CE Bosworth dari Univesity of Manchester.

"Riyadhus Shalihin adalah pilihan dari hadist-hadist shahih, yang ditambah satu atau dua dari kitab hadist lain misal Muwatta dari Imam Malik. Bagian paling besar dalam kitab adalah pilihan hadist shahih dari Bukhari dan Mulim," tulis Zafrula.

Kebanyakan hadist yang ditulis hikmah memang berasal dari Bukhari dan Muslim. Keduanya lantas disebut sebagai hadist riwayat Bukhari dan Muslim. Riyadhus Shalihin menyertakan ayat Al-Qur'an yang sejalan dengan pembahasan. Ayat Al-Quran dapat dilihat para muslim di akhir bab pembahasan.

Pengaturan Riyadhus Salihin ini mempertegas anggapan ilustrasi seperti rangkuman ayat al-Qur'an. Zafrula menulis, pihaknya bertindak hati-hati supaya jangan ada lagi pembahasan berulang yang berisiko membingungkan pembaca. Riyadhus Shalihin berarti The Meadows of the Righteous atau Tamannya Orang-orang Shalih.

Kitab Riyadhus Salihin ditulis Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawy atau Imam Nawawi. Dia lahir pada 631 H atau 1234 M di Nawa sebelum pindah ke Damaskus pada usia 19 tahun. Di kota inilah, Imam Nawawi menyelesaikan pendidikan dan mengajarkannya pada murid lain.

Imam Nawawi sempat tertarik belajar kedokteran namun tidak jadi melanjutkan mimpi tersebut. Dia melanjutkan belajar seputar hadist yang sudah menarik minatnya sejak dulu. Sepanjang hidupnya Imam Nawawi dikenal memegang teguh prinsip kebenaran, hidup sederhana, dan fokus pada berbagai hal terkait agama.

Selain Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi juga sempat menulis di Commentary untuk Sahih of Muslim dan Sahih of Bukhari. Imam Nawawi meninggal pada 676 H atau 1278 M dalam usia 46 tahun. Seluruh komunitas muslim di Damaskus bersedih saat menerima kabar Imam Nawawi meninggal di desa kelahirannya.

(row/erd)