Ditjen Bea dan Cukai Banten Gencarkan Perang Lawan Rokok Ilegal

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 21:26 WIB
Ditjen Bea dan Cukai Banten
Foto: Dok. Ditjen Bea dan Cukai Banten
Jakarta -

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai gencar mengkampanyekan 'Gempur Rokok Ilegal'. Kampanye ini digencarkan salah satunya Kantor Wilayah DJBC Banten, karena hak negara dalam hal sektor penerimaan cukai rokok hilang oleh produk ilegal tersebut.

"Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang yang memiliki karakteristik tertentu. Negara mengalami kerugian apalagi jika keberadaan rokok ilegal ini menurunkan minat orang untuk mengonsumsi rokok yang resmi," ungkap Kepala Kantor Wilayah DJBC Banten, Moh. Aflah Farobi, dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2020).

Barang kena cukai berupa rokok yang dikategorikan ilegal apabila tidak membayar cukai dan pajak rokok sebagaimana mestinya sehingga harga jualnya relatif jauh lebih murah. Segmen pasar dari rokok ilegal yang ditawarkan dengan harga relatif sangat murah ini adalah masyarakat berpenghasilan rendah.

Secara umum merokok memang merugikan kesehatan. Bahayanya pada kesehatan cukup signifikan. Namun, mengonsumsi rokok ilegal ternyata memiliki risiko kesehatan yang lebih besar karena pabrik yang memproduksinya merupakan pabrik ilegal atau Industri rumahan (home industry) yang belum teruji kelayakannya.

"Dikatakan ilegal karena memiliki beberapa ciri penting yakni tidak dilekati dengan pita cukai pada bagian kemasannya seperti pada rokok yang kita temukan di pasaran. Bisa juga pita cukai tersebut palsu yang biasanya desain warnanya akan terlihat pudar," jelasnya.

Cara lain orang mengemas rokok ilegal adalah dengan menggunakan pita cukai bekas yang sudah dipakai. Biasanya akan terlihat sobek, tidak rapi dan tampak berkerut. Rokok dengan pita cukai yang tidak sesuai dengan nama perusahaan atau jumlah batangnya juga dikatakan sebagai ciri dari rokok ilegal.

Rokok-rokok ilegal ini biasa dijual di tempat-tempat seperti warung, toko, pasar hingga agen-agen distribusi di pedesaan yang aksesnya sulit dijangkau oleh petugas. Namun sering juga ditemukan di daerah pesisir. Beberapa kawasan di Banten yang banyak ditemukan sebagai tempat peredaran rokok ilegal di antaranya Pandeglang, Lebak, Serang dan juga Tangerang.

"Selain itu Banten menjadi jalur distribusi rokok ilegal yang akan menyeberang ke Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Merak. Oleh karena itu, Banten menjadi salah satu lokasi peredaran rokok ilegal yang perlu mendapatkan pengawasan ketat," terangnya.

Mengenali rokok ilegal yang ada di Banten tidak begitu sulit, tetapi bagi masyarakat yang belum tahu, penting memahami hal ini. Biasanya rokok-rokok tersebut kemasan dan desainnya dibuat sedemikian rupa menyamai rokok-rokok ternama yang ada di pasaran.

"Kemasan yang keren ini diharapkan dapat mengelabui para perokok sehingga tertarik untuk mengonsumsinya. Apalagi harganya yang terbilang murah dan lebih terjangkau," ucapnya.

Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil DJBC Banten, Zaky Firmansyah, mengungkapkan sanksi yang diberikan kepada pihak terkait yang berperan dalam menyebarkan peredaran rokok ilegal menurut pasal 54 UU Nomor 39 tahun 2007 yaitu sebagai berikut.

Setiap orang yang menawarkan, menyerahkan, menjual atau menyediakan untuk dijual barang kena cukai yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau tidak dilekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 ayat(1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

Ia berujar Kanwil DJBC Banten terus melakukan upaya-upaya dalam rangka pemberantasan rokok ilegal. Di antaranya melakukan operasi pasar dan sosialisasi tentang rokok ilegal baik secara langsung di setiap toko yang ada di wilayah pengawasan Kanwil DJBC Banten juga melalui media sosial dan siaran radio. Selain itu, Bea Cukai Banten juga melakukan pengawasan terhadap jalur distribusi dan pengusaha jasa titipan/ekspedisi.

"Bulan Maret lalu, petugas Bea Cukai Kanwil Banten menyita sebanyak lebih dari dua juta batang rokok, tanpa pita cukai dan diduga dilekati pita cukai palsu. Dalam operasi ini, Tim Kanwil Bea Cukai Banten berhasil mengamankan 2 pelaku inisial FR dan FZ yang mengangkut 2.096.000 batang rokok ilegal yang terdiri dari 71 karton berisi 1.136.000 batang rokok merek 'Coffee Stik', 31 karton berisi 496.000 batang rokok merek 'Maxx One Bold', dan 29 karton berisi 464.000 batang rokok merk 'Jaya Bold'," terang Zaky.

Jika barang hasil penindakan tersebut beredar di masyarakat, maka dapat menyebabkan kerugian negara hampir Rp 1 miliar. Berdasarkan data penindakan tahun 2020, Bea Cukai Banten telah melakukan 30 kali penindakan terhadap rokok ilegal di wilayah pengawasan Kanwil DJBC Banten dan mengamankan barang bukti 3.073.730 batang rokok ilegal dengan nilai barang lebih dari Rp 2 miliar.

"Upaya penindakan serius terhadap oknum terkait ini diharapkan mampu memberikan efek jera bagi para pelaku dan pengedar rokok ilegal baik yang ada di daerah Banten maupun daerah lain," tandasnya.

Dengan besarnya bahaya dari rokok ilegal, diharapkan masyarakat ikut berperan aktif dalam upaya pemberantasan rokok ilegal dengan tidak mengonsumsi rokok ilegal dan melaporkan apabila menemukan rokok ilegal ke Kantor Bea Cukai terdekat atau menghubungi: 1500 225 (Bravo Bea Cukai) dan 0857-7995-4213 (Petugas Bea Cukai Banten).

(prf/ega)