Hukum Salat Jamaah Safnya Tak Rapat Karena Pandemi Menurut MUI DKI

Puti Yasmin - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 15:25 WIB
Salat Berjemaah di Bandung Barat
Foto: Whisnu Pradana/Ilustrasi
Jakarta -

MUI DKI Jakarta merilis panduan salat di tengah pandemi virus corona. Dalam aturan tersebut, tertulis bahwa salat berjamaah tidak boleh dilakukan dengan merapatkan barisan.

Dalam surat yang ditandatangani pada 2 Juni 2020 ini, dijelaskan bahwa tidak merapatkan barisan tidak mengurangi pahala dalam salat berjamaah. Sebab, keutamaannya adalah mencari ilmu.

Selain itu, menurut Imam Ramli, hukum tidak merapatkan barisan dalam kondisi normal, bukan pandemi COVID-19, hukumnya makruh, walaupun masih mendapatkan keutamaan berjamaah. Sedangkan, menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitami hal itu tidak mendapatkan keutamaan dalam salat berjamaah.

"Menurut Ibnu Hajar Al Haitami apabila menyalai ketentuan salat berjamaah di atas, maka hukumnya makruh dan tidak mendapatkan keutamaan berjamaah. Sedangkan menurut Imam as-Syihab ar-Ramli, semua kemakruhan dalam berjamaah bisa menghilang fadlilah jamaah, kecuali meluruskan shaf." (Busyra al-Karim 379).

Namun, dalam kondisi tidak normal, tidak merapatkan barisan dalam salat berjamaah dan menggunakan masker hukumnya tidak makruh dan tetap mendapatkan pahala keutamaan berjamaah.

"Jika mereka tidak mengisi shaf yang kosong karena ada uzur seperti cuaca panas di Masjidil Haram, maka tidak makruh karena tidak ada unsur kelalaian. Selain itu, mereka tidak kehilangan keutamaan salat berjamaah." (Nihayatuz Zain, 119).

Terakhir, menjaga jarak dalam salat hukumnya menjadi wajib bila alasanya menghindari bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Hal itu berdasarkan hadist riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda,

"Jangan membuat bahaya kepada diri sendiri dan orang lain."

Simak juga video 'JK: Protokol Kesehatan di Masjid Mudah Diatur daripada Pasar-Mal':

(pay/erd)