Covid-19 Belum Berakhir, Ini 5 Sikap Muslim Saat Menghadapi Wabah

Lusiana Mustinda - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 13:36 WIB
BERLIN, GERMANY  - MAY 31: A Muslim woman wears a face mask that reads: Black lives matter more than white feelings at a protest rally against racism following the recent death of George Floyd in the USA on May 31, 2020 in Berlin, Germany. The death of Floyd, an African-American man, at the hands of police in Minneapolis has struck a cord with many people of color who live in Germany. Demonstrators also gathered in front of the American Embassy in Berlin yesterday and today. (Photo by Sean Gallup/Getty Images)
Sikap muslim saat pandemi. Foto: Getty Images/Sean Gall
Jakarta -

Virus corona ternyata masih menghantui beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Namun aktivitas kita harus berjalan agar perekonomian semakin pulih kembali. Tentunya dengan menjalankan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Dengan adanya musibah wabah ini, tentu kita harus menyikapinya dengan baik. Adapun sikap seorang muslim dalam menghadapi pandemi ini adalah sebagai berikut yang dikutip dalam booklet kutbah Idul Fitri berjudul 'Memetik Hikmah di Tengah Wabah' oleh Ahmad Sarwat, Lc.MA :

1. Berprasangka Baik Kepada Allah


Yang pertama harus kita lakukan adalah berprasangka baik saat sedang menghadapi bala' ataupun bencana.

Allah SWT berfirman:

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penghliharan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka." (QS. Al-Ahzab: 10).

Berprasangka baik juga disebutkan dalam hadits qudsi berikut ini:

"Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku, karnanya hendaklah ia berprasangka semaunya kepada-Ku."

2. Optimis dan Berkata Baik


Kita tetap wajib bersikap optimistik dalam menghadapinya dan berucap kata-kata yang baik.

Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Nabi Saw dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu:

"Tidaklah penyakit menular tanpa izin Allah dan tidak ada pengaruh dikarenakan seekor burung, tetapi yang mengagumkanku iala al-Fa'lu (optimisme), yaitu kalimah hasanah atau kalimat thayyibah (kata-kata yang baik)." (HR. Bukhari Muslim).

Para ahli medis mengatakan bahwa salah satu faktor yang memicu penyembuhan para pasien korban covid-19 adalah mentalistas yang optimis serta tidak stress. Yang dibicarakan bukan angka-angka korban kematian, melainkan angka-angka kesembuhan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga melarang kita untuk berbicara yang tidak baik. Kalau tidak bisa membicarakan yang baik-baik saja, maka sebaiknya diam saja.

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam." (HR. Bukhari Muslim).

3. Kewajiban Menghindari Wabah


Hal pertama yang perlu dilakukan oleh seorang muslim dalam menghadapi pandemi penyakit setelah ia menata akidahnya adalah berikhtiar semaksimal mungkin untuk menghindarinya. Bahkan sikap ini merupakan perintah langsung dari Rasulullah Saw dan sekaligus diamalkan oleh Rasulullah Saw:

"Dan larilah dari penyakit lepra sebagaimana engkau lari dari kejaran singa." (HR. Bukhari).

4. Tidak Membahayakan Orang Lain


Selain tidak boleh membahayakan diri sendiri, kita juga wajib menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang membahayakan orang lain. Sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Said al-Khudri radhiyallahuanhu.

"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain." (HR. Malik, Daruquthni, Hakim dan Baihaqi)

Tidak bolehnya kita berkumpul, harus menghindari kontak fisik dan wajibnya kita menjaga jarak selama masa penyebaran covid-19 (https://www.detik.com/tag/pandemi) ini adalah bentuk nyata dari upaya agar kita tidak memberi mudharat kepada orang lain.

5. Wajib Mengupayakan Pengobatan


Syariah Islam telah memerintahkan kepada kita sebagai hamba Allah untuk selalu mengupayakan kesembuhan. Karena penyakit itu datang dari Allah SWT. Dan Allah SWT tidak pernah menurunkan suatu penyakit kecuali diturunkan juga obatnya. Maka tugas dan kewajiban kita adalah untuk menemukan obat dari suatu penyakit.

Memang kita bukan ahli dalam bidang pengobatan penyakit, akan tetapi setidaknya kita ikut mendukung semua pihak dalam rangka mendapatkan obat atas suatu penyakit. Perintah ini memang datang dari sisi Nabi Saw:

"Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah 'azza wajalla." (HR. Muslim).

(lus/erd)