DMI: Fatwa MUI Pusat soal Jumatan 2 Gelombang Konteksnya Bukan Saat Pandemi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 11:32 WIB
Sekjen DMI Imam Addaruqutni. (Foto: Dwi Andayani/detikcom)
Foto: Sekjen DMI Imam Addaruqutni. (Foto: Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta -

Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengatakan fatwa MUI pusat bahwa salat Jumat dua gelombang hukumnya tidak sah muncul atas persoalan di sektor industri. Hal itu berbeda jauh dengan situasi darurat pandemi virus Corona (COVID-19) yang dialami saat ini.

"Jadi MUI pusat itu fatwa yang tidak boleh melaksanakan dua gelombang itu suasana batinnya lain, dulu pertanyaannya dari kaum pengusaha, supaya pabriknya terus produksi maka boleh nggak dua gelombang, satu tetap berurusan perusahaan mengerjakan, nanti setelah turun yang satu, dia jadi jumatan itu. Jadi tidak boleh. Semangatnya itu supaya tidak menggampangkan tapi kalau ini darurat ini. Berbeda, suasananya berbeda," kata Sekjen DMI Imam Addaruqutni saat dihubungi, Rabu (3/6/2020).

Imam mengatakan penerapan physical distancing demi mencegah penularan virus Corona berdampak terhadap daya tampung masjid. Karena itu, menurut dia, salat Jumat dalam satu gelombang tidak mungkin dilakukan dalam situasi seperti ini.

"Nggak mungkin karena ada physical distancing itu efeknya adalah efek penurunan kapasitas masjid, daya tampung masjid," ujar dia.

Imam juga mengomentari fatwa MUI DKI yang membolehkan salat Jumat dua gelombang di tengah pandemi Corona. Imam mengatakan fatwa tersebut sudah sesuai dengan maklumat DMI.

"Iya DMI sudah mengeluarkan maklumat dan melaksanakan salat Jumat dua gelombang. Jadi kalau MUI DKI mengeluarkan lagi, ya sudah malah bagus," ujar dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2