Setia Jadi Pembuat Cangkul, Eko Bisa Raup Rp30 Juta per Bulan

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Minggu, 31 Mei 2020 12:11 WIB
BRI
Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom
Klaten -

(Foto: dok. detikcom/Faidah Umu Sofuroh)

Sejak 80-an Eko Lilik Supriatin sudah menekuni usaha pandai besi di Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Klaten warisan orang tuanya. Ia mengatakan dirinya merupakan generasi kelima yang melanjutkan usaha pandai besi dengan produk utama alat pertanian cangkul.

"Dulu warisan orang tua, itu sejak 80-an. Karena ini kan turun temurun jadi istilahnya dari nenek moyang, sudah 5 turunan sampai sekarang masih berlanjut," ungkap Eko kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Puluhan tahun menekuni usaha pandai besi, Eko mengaku bisa mendapatkan omzet hingga Rp30 juta per bulan jika pesanan sedang ramai-ramainya. Ia mengatakan usahanya bisa tetap terus berjalan karena ia mengutamakan kualitas produk cangkul miliknya.

Setiap hari, ia mampu menghasilkan 20-60 buah cangkul, tergantung dengan pesanan atau proyek yang tengah ia kerjakan. Dari situ, ia bisa mendapatkan pendapatan bersih kurang lebih Rp800 ribu per hari. Ia hanya memiliki dua pegawai yang membantunya memproduksi cangkul setiap hari.

Menurutnya, semakin sedikit pegawai, maka kualitas cangkul lebih bisa dikontrol dengan baik. Kualitas juga yang membuatnya memiliki pelanggan setia di beberapa daerah seperti Tawangmangu, Karanganyar, Magetan, hingga Ponorogo.

"Pekerjanya cuma 2 aja, sengaja pekerja tidak terlalu banyak karena untuk menjaga kualitas, soalnya kalau pekerjanya terlalu banyak, kualitas juga akan susah dijamin. Sekarang kan banyak yang produksi banyak, tapi kualitasnya kurang, kalau saya mending bikin yang standar aja tapi kualitasnya baik," ucapnya.

Dukuh Karangpoh memang menjadi salah satu sentra industri pandai besi di Klaten. Tak heran jika memasuki pedukuhan ini, akan terdengar suara nyaring dari pukulan-pukulan besi. Meski demikian, Eko mengatakan warganya memiliki rasa tenggang rasa yang tinggi.

Saat ada orang meninggal, misalnya, warga Dukuh Karangpoh yang bekerja sebagai pandai besi sepakat untuk tidak bekerja untuk menghormati keluarga yang berduka.

"Selain hari Minggu, di sini kalau ada orang meninggal juga harus libur, jadi sudah kesepakatan satu kampung kalau ada orang meninggal harus libur. Nanti kalau jenazah sudah diangkat ke makam, baru bisa kerja lagi," jelasnya.

Dari hasil kerja kerasnya selama lebih dari 30 tahun ini, ia kini bisa membeli lahan dan membuat rumah untuk dirinya tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Ia berharap usahanya bisa berkembang lebih baik lagi.

Apalagi, saat ini Dukuh Karangpoh khususnya Koperasi Industri Pande Besi dan Las (Kopinkra 18) telah menerima bantuan corporate social responsibility (CSR) berupa 2 unit air hammer dari BANK BRI. Bantuan ini diharapkan bisa meningkatkan produktivitas para pandai besi di Dukuh Karangpoh.

"Harapannya mudah-mudahan ada proyek yang untuk melancarkan lebih maju untuk kegiatan pandai besi di kampung ini, dan harapan lainnya yaitu bisa untuk menghidupi keluarga sampai sejahtera," pungkasnya.

(akn/ega)