Pelaku Pengeroyokan di Donggala Ditembak, Pengacara: Ini Kejam

Mohammad Qadri - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2020 03:57 WIB
Dirawat 1 Bulan Lebih Usai Ditembak Polisi, 53 Pengacara Pelaku Pengroyokan Sebut Itu Kejam
Foto: Mohammad Qadri-detikcom
Jakarta -

Sebanyak 53 pengacara di Sulawesi Tengah yang tergabung dalam Tim Kuasa pelaku pengeroyokan di Donggala, sebut aparat kepolisian kejam. Hal itu dikarenakan kliennya jalani perawatan kurang lebih 1 bulan, usai ditembak polisi.

"Tindakan ataupun cara aparat kepolisian menangkap pelaku kriminal tidak profesional. Kenapa harus ditembak? kenapa koruptor tidak ? kenapa anak- anak kecil itu yang ditembak, mestinya panggil orang tuanya, atur di situ dan panggil ketua adatnya. Bukan ditembak, ini kejam" kata Agus Salim, salah satu Tim Kuasa pelaku kepada wartawan, Jum'at (29/5/2020) sore.



Hal tersebut juga disampaikan oleh 53 pengacara yang tergabung dalam Tim Kuasa Komite Aksi HAM Sulteng, di Kantor DPRD Sulteng. Pelaku yakni Reinaldi alias Rei. Ia merupakan salah satu aktor yang berperan penting dari sejumlah kasus kekerasan di wilayah Desa Toaya Vunta, Kecamatan Sindue, Donggala.

Dari pantauan detikcom, tim kuasa datang dengan bersama kedua orang tua pelaku, dan berencana mengajak hearing terkait penembakan Reynaldi alias Rei di. Mereka menganggap tindakan tersebut tidak perlu diberlakukan kepada siapa saja pelaku kriminal.

Menurutnya, kalaupun dilakukan penembakan harus dikaki, bukan diperut. Diketahui bahwa Reinaldi alias Rei tengah menjalani perawatan di RSU. Anutapura untuk dilakukan operasi yang kedua kalinya, setelah sebelumnya dilakukan operasi di RS. Bhayangkara.

Sementara itu, ditempat yang terpisah Kasat Reskrim Polres Donggala Iptu I Kadek W. Kartika mengatakan bahwa langkah yang dilakukan oleh anggota buser sudah sesuai dengan Standar Oprasional Prosedur (SOP) Polri.



"Reinaldi alias Rei adalah burononan Polres Donggala, yang sudah diterbitkan sebagai DPO sejak tahun 2019, dengan berbagai jenis kasus laporan kriminal di daerah Pantai Barat Dongala. Penangkapan yang kami lakukan pada (27/4) pun, mendapat perlawanan dari pelaku, dengan menyerang anggota di lapangan menggunakan palu tembok dan linggis."Ucap Iptu I Kadek W. Kartika kepada detikcom pada Sabtu (30/5/2020) pukul 01.00 WITA.

Perlawanan pelaku dengan menggunakan palu tembok dan linggis berakhir setelah ditembak sebanyak 4 kali. Diketahui bahwa pelaku terlibat dalam 5 kasus tindak kriminal, yakni penganiayaan pada 25 Juni 2016, pengeroyokan pada tanggal 26 Januari 2019, pengeroyokan mahasiswa 23 September 2018, pencemaran nama baik pada 6 Oktober 2019, dan pengrusakan truck melintas pada 31 Oktober 2019.

(dwia/dwia)