Anggota F-PDIP Apresiasi Jokowi Libatkan TNI-Polri di Persiapan New Normal

Mochamad Zhacky - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 16:05 WIB
Anggota Komisi IX dari Fraksi PDIP Rahmad Handoyo.
Rahmad Handoyo. (Foto: Zhacky/detikcom)
Jakarta -

Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Rahmad Handoyo mendukung arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang melibatkan TNI-Polri dalam mempersiapkan tatanan normal yang baru atau new normal. Rahmad menilai personel TNI-Polri dapat menularkan perilaku disiplin kepada warga.

"Ya, saya kira instruksi ini sudah sangat tepat, ya, bahwa Presiden mengunjungi kemarin kesiapan untuk bangsa kita menyongsong new normal. New normal ini kan suatu yang keniscayaan, budaya baru, normal yang baru, kebiasaan baru dan satu lagi, harus berdisiplin tinggi dengan melibatkan TNI-Polri," kata Rahmad kepada wartawan, Jumat (29/5/2020).

"Terkait dengan pelibatan TNI-Polri saya kira pantas kita apresiasi, karena budaya bangsa kita ini masih proses belajar berdisiplin. Tetapi ini langkah yang bijak, langkah yang tepat dengan melibatkan TNI-Polri," imbuhnya.

Rahmad menekankan pelibatan TNI-Polri bukan untuk memberikan tekanan kepada masyarakat. Dia menilai ada harapan khusus mengapa pemerintah melibatkan dua institusi tersebut.

"Bukan berarti melibatkan TNI-Polri itu kita memberikan pressure kepada masyarakat, tidak. Harapan kami, harapan kita semua agar kehadiran negara melalui TNI-Polri, karena kita tahu lah TNI-Polri itu pusatnya disiplin, sehingga kita tularkan disiplin TNI-Polri itu kepada rakyat," terang Rahmad.

Namun demikian, Rahmad mewanti-wanti pemerintah untuk tidak membuat kebijakan yang berubah-ubah. Anggota Komisi IX DPR itu meminta pemerintah fokus membangun perilaku disiplin agar new normal berjalan maksimal dan tidak menjadi 'bumerang'.

"Saran kepada pemerintah, satu, tegakkan disiplin. (Kedua) jangan mudah berubah-ubah aturan, dan yang ketiga, kepada seluruh masyarakat, kepada seluruh elemen bangsa, 'new normal' ini akan berjalan efektif kalau semua pihak menjalankan disiplin yang tinggi. Tanpa disiplin yang tinggi, 'new normal' hanya sebatas aturan dan bisa kemungkinan menimbulkan gelombang kedua," papar Rahmad.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2