HNW Sorot Rekam Jejak Dirut TVRI di Majalah Playboy, Ini Penjelasan Iman Br

Mochamad Zhacky - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 15:18 WIB
Hidayat Nur Wahid
Hidayat Nur Wahid (HNW). (Foto: MPR)
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menilai penetapan Iman Brotoseno (Iman Br) menjadi Direktur Utama (Dirut) TVRI tidak sesuai dengan Tap MPR Nomor VI/MPR/2001 Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Sebab, sebut HNW, Iman pernah menjadi kontributor majalah Playboy Indonesia. Iman kemudian menjelaskan satu kali keterlibatannya di majalah itu soal artikel pariwisata.

Di dalam Tap MPR tersebut, kata Hidayat, salah satu poinnya adalah pentingnya etika sosial dan budaya, yaitu dengan 'perlu menumbuhkembangkan kembali budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.'

"Disayangkan sekali, rekam jejak calon Dirut TVRI yang baru sebagai eks kontributor majalah Playboy Indonesia tidak menggambarkan hal itu. Apalagi, terkait majalah tersebut, dari pemimpin redaksi hingga beberapa modelnya pernah diproses secara hukum, berkaitan dengan delik kesusilaan," kata HNW dalam keterangan tertuilis kepada wartawan, Jumat (29/5/2020).

HNW juga berpendapat bahwa penetapan Iman sebagai Dirut TVRI dengan rekam jejak yang seperti itu tak sesuai dengan budaya beragama di Indonesia. Pimpinan MPR dari Fraksi PKS itu menyebut penetapan tersebut justru akan membuat gaduh dan resah masyarakat yang sedang dilanda kesusahan karena pandemi virus Corona (COVID-19).

"Masyarakat yang mestinya dibantu dengan hadirnya kebijakan-kebijakan yang membanggakan dan menenteramkan agar menguatkan religiositas dan harapan serta kepercayaan pada institusi negara, dan karenanya akan berkontribusi atasi COVID-19, anehnya malah kembali disodori keputusan yang menimbulkan kontroversi," sesal HNW.

Apalagi, lanjut HNW, saat ini warga diminta bekerja dan belajar dari rumah saja yang salah satu kegiatannya adalah menonton tayangan televisi. TVRI, dia melanjutkan, menjadi stasiun televisi yang bisa menjangkau masyarakat Indonesia secara sangat luas hingga seluruh pelosok.

"Nah, kalau direkturnya berlatar belakang negatif seperti itu, tentu bisa membuat keresahan dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi itu berkurang," tutur HNW.

HNW juga berpendapat seharusnya Dewas TVRI menghormati proses hukum. Anggota Komisi VIII DPR itu menegaskan pengangkatan Iman sama saja dengan tidak menghargai dan tidak melaksanakan rekomendasi Komisi I DPR.

"DPR sedang menangani kisruh tersebut, tetapi justru Dewas TVRI tak mengindahkan, dan malah menambah kisruh yang baru dan lebih luas," ujarnya.

"Dewas seharusnya juga menghormati proses hukum yang sedang berlangsung itu. Minimal sampai ada putusan berkekuatan tetap dari pengadilan," imbuh HNW.

Oleh karena itu, HNW meminta Dewas TVRI menjelaskan secara gamblang mengenai penetapan Iman sebagai dirut. Menurutnya, rekam jejak calon harus menjadi dasar dalam membuat keputusan.

"Dewas harus menjelaskan hal tersebut secara gamblang, bahkan perlu segera merevisi keputusannya. Kok bisa rekam jejak komprehensif calon dirut bisa luput dari perhatian dalam proses pemilihan Dirut TVRI, jabatan publik yang sangat strategis dan dibiayai oleh APBN," pungkasnya.

Tonton juga video 'Diperebutkan 30 Orang, Berapa Gaji Dirut TVRI?':

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2