Kolom Hikmah

Iman, Amankan COVID Berdampingan

Abdurachman - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 15:03 WIB
One day One Hadits Keutamaan sholat malam Lailatul Qadr
Foto: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

New normal bersamaan dengan diterimanya COVID-19 sebagai kawan seperjalanan. Hidup berdampingan dengan COVID. Mereka ada, manusia sehat dan aman. Hidup saling berkawan. Layaknya virus influenza yang sudah lama bertahan di muka bumi. Sekali waktu menimbulkan wabah flu Spanyol (1918-1920), 50 jutaan manusia menjadi korban. Sekali waktu 'diam', hanya sedikit sekali manusia yang diajak 'pulang', meninggal. Ialah mereka yang tidak memiliki imunitas ambang. Sekadar imunitas yang dibutuhkan menghadang serangan virus flu.

Bulan Ramadhan baru saja mengucap selamat tinggal. Insyaallah 11 bulan lagi akan datang. Orang-orang beriman semakin meningkat keimanannya. Mereka melaksanakan puasa Ramadhan dan segala ibadah di dalamnya hanya mengharap rida Allah. Mereka melaksanakan ibadah penuh kehati-hatian, profesional. Iimaanan wahtisaaban, ibadah yang dilakukan karena iman kepada Allah disertai kehati-hatian, selalu mengevaluasi proses ibadahnya. Di akhir Ramadhan, mereka memperoleh kesucian, kembali pada fitrah. Iman mereka membuncah.

Puasa bagi orang-orang beriman merupakan jalan meningkatkan ketakwaan (QS 2:183). Semakin takwa seseorang semakin sempurna kuantitas dan kualitas perilaku baiknya. Perilaku baik yang hanya disandarkan kepada Allah.

Barangsiapa yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh (takwa), tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [QS 6: 48]. Orang-orang yang kualitas imannya membuncah, mereka selalu tenang dan selalu senang.

Secara epistimologi iman seakar dengan kata aman. Iman yang membawa rasa aman memunculkan kepedulian, "Tidaklah sempurna iman seseorang bila ia bisa nyenyak tidur sementara tetangganya gelisah karena lapar," sabda Rasulullah saw.

Iman itu terdiri atas 73 tingkatan, yang tertinggi adalah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Tingkat terendah ialah menghilangkan (gangguan sekecil apa pun semisal) suatu hal yang potensial menghalangi orang di jalan umum. Gangguan itu bisa berupa duri, bahkan kulit pisang yang potensial membuat orang terpeleset dan jatuh.

Iman di tingkat terendah, tidak sepi dari gambaran rahmatan lil 'aalamiin. Ialah rahmat,menebarkan kasih sayang kepada semesta, sebagai misi utama Rasulullah saw diutus kepada seluruh alam. Juga misi utama seluruh manusia yang mengaku beriman kepadanya dan bersumpah melalui dua kalimat syahadat untuk meneladaninya secara serius.

Tebar kasih sayang kepada siapa pun tidak pilih tebang. Kepada siapa pun pengguna jalan, tidak peduli suku bangsa, ras, agama, bahkan terhadap siapa pun yang boleh jadi berseberangan pendapat. Iman menjamin kondisi aman.

Sampai-sampai Rasulullah mengingatkan kepada orang-orang beriman, "Maukah aku kabarkan kepada kalian ciri seorang yang benar-benar beriman? Ialah orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya, (baik) terhadap harta maupun jiwa mereka".

Oran-orang beriman selalu tenang dan selalu senang. Kondisi ini secara medis menghadirkan makna keseimbangan. Kondisi seimbang secara konsep kedokteran Timur disebut sehat.

Tenang berarti mampu mengendalikan setiap stressor dengan sempurna. Sesuai hukum aksi-reaksi Newton, tenang berarti selisih gaya yang menimpa benda memiliki nilai mendekati nol. Daya yang menimbulkan aksi, seimbang dengan daya reaksi yang meredam. Daya yang menimbulkan stres sepadan dengan reaksi solusi terhadap stres yang timbul.

Secara kedokteran molekuler, kondisi demikian merupakan keadaan yang mengindikasikan tingkat radikal bebas yang rendah. Radikal bebas yang rendah menunjukkan rendahnya tingkat stres. Radikal bebas yang rendah menjadikan individu memiliki endurance, kapasitas kerja yang lama, tidak mudah lelah, kuat, sehingga tidak mudah mengeluh. Segar dan tidak mudah salah paham.

Radikal bebas yang rendah menunjukkan sel-sel tubuh yang tidak mudah rusak, awet muda. Kesempatan tubuh untuk meremajakan sel-selnya meningkat, tubuhnya selalu tampak segar. Sel-sel: otak, jantung, lever, ginjal, otot, tulang, kulit, dan sel-sel lainnya termasuk sel-sel imunitasnya memiliki kesempatan untuk selalu direnovasi sesuai kebutuhan tubuh. Selalu segar, siap berfungsi optimal.

Sel-sel otak yang selalu baru, segar, mudah konsentrasi, tidak mudah lupa, semangat bekerja, mudah menemukan solusi efektif dari setiap persoalan, cerdas, pintar, tidak mudah tegang, apalagi mudah menyalahkan orang lain.

Sel-sel jantung yang senantiasa dirawat, selalu siap memompa darah ke seluruh tubuh. Jantung baik, tidak mudah 'ngadat', sehingga tidak mudah nyeri. Tidak mudah mendapat serangan jantung.

Darah yang mengalir dengan baik, tidak ada rintangan, dapat menyuplai seluruh kebutuhan tubuh dengan optimal. Kondisi ini menjamin seluruh organ mampu melakukan fungsinya dengan baik. Seluruh organ segar dan nyaman.

Otot-otot segar, tulang-tulang dan seluruh perlengkapannya; ligamen (sambungan otot dan tulang); sendi-sendi dapat berfungsi optimal. Mereka jarang 'mengeluh'; semisal rasa pegal, nyeri, linu dan lain-lain. Keadaan yang sering menimbulkan gejolak kecewa dan menghambat segala aktifitas, termasuk aktifitas kecil untuk sekedar tersenyum.

Lever berfungsi baik. Dapat menjadi pusat pengelolaan, memproduksi kebutuhan esensial tubuh, menetralkan bahan beracun dan sekian banyak fungsi lainnya. Fungsi lever yang baik akan mendukung sempurnanya seluruh proses fisik dan proses molekuler yang baik bagi tubuh.

Imunitas tubuh yang optimal 'pastilah' mampu menghadang gangguan apa pun, termasuk COVID.

Selamat Idul Fitri. Semoga ibadah Ramadhan kita menghadirkan tenang dan aman.

Selamat menyambut new normal, hidup berdampingan dengan COVID dalam keadaan sehat!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar FK Universitas Airlangga Surabaya

* Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pengirim. --Terima kasih, Redaksi-

(erd/erd)