Pemeriksaan Spesimen Corona Capai Target, Pakar UGM: Harus Dipertahankan

Farih Maulana Sidik - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 06:57 WIB
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium.
Ilustrasi pemeriksaan spesimen Corona. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Pemeriksaan spesimen terkait virus Corona (COVID-19) di Indonesia memenuhi target dalam 2 hari berturut-turut. Pakar Epidemiologi Universitas Gajah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad meminta pemerintah mempertahankan capaian tersebut.

"Kalau saya melihatnya memang kita masih harus meningkatkan pemeriksaan dan itu harus dipertahankan dalam angka yang tinggi dan secara konsisten. Jadi, kalau hanya 1-2 hari bisa jadi ada fluktuasi," kata Riris Andono kepada wartawan, Kamis (28/5/2020).

Dia tidak mengetahui persis apakah pemeriksaan specimen di atas 10 ribu per hari yang telah dilakukan dalam 2 hari berturut-turut itu memang karena kapasitas laboratorium di Indonesia sudah memadai. Jika benar, sebut dia, merupakan kabar baik karena bisa membuat kapasitas diagnosis menjadi lebih besar.

"Jadi kalau cuma 1-2 hari, kita belum bisa memastikan apakah itu good news atau memang itu kapasitasnya lab sudah bisa memeriksakan segitu banyak. Tapi, apakah pemeriksaannya yang dilakukan itu per harinya seperti itu, atau karena memang mengejar karena pas lebaran kemarin sempat libur terus mengejar deadlock-nya," katanya.

"Tapi, kalau secara umum, kalau kita bisa membuat kapasitas diagnosis kita menjadi lebih besar, itu, ya, kabar baik," sambungnya.

Tonton juga video 'Pola Hidup Masyarakat Berubah Digital Saat Dilanda Covid-19':

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2