Penyerbu Indopos Ingin Wartawan Penulis Premanisme Dipecat
Rabu, 21 Des 2005 11:27 WIB
Jakarta - Penyerbu kantor Harian Indopos, Selasa 20 Desember malam sekitar pukul 21.30 WIB, menuntut agar wartawan yang menulis masalah Premanisme Tanah Abang, dipecat saat itu juga. Tapi ternyata sang penulis yang bernama Deri Ahirianto tidak ada di tempat. Ngamuklah mereka.Berdasarkan penuturan saksi mata kepada detikcom, Rabu (21/12/2005), para penyerbu itu berang karena Deri yang dicari tidak ada. Saat itu Pemred Indopos Irwan Setyawan juga masih di luar kantor. Situasi mulai terkendali ketika Pemred tiba di lantai 10 Gedung Graha Pena itu bersama puluhan anggota kepolisian."Saat ketemu Pemred, para penyerbu meminta agar Deri dipecat saat itu juga. Tapi Pemred mengaku tidak bisa berbuat demikian. Karena terdesak Pemred bilang akan menonaktifkan sementara wartawannya, dan untuk pemecatan akan dibahas kemudian oleh direksi," imbuhnya.Lantai 10 Gedung Graha Pena di Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang merupakan markas dari sejumlah media terbitan Jawa Pos menjadi mencekam, Selasa malam. Setidaknya lima wartawan terkena pukulan dari penyerbu. Bahkan dua orang dilarikan ke rumah sakit. Yunus Rizki mengalami patah hidung, dan Dily wajahnya lebam.Massa yang menyerbu ini mempermasalah tulisan bersambung di Indopos soal premanisme di Tanah Abang. Kelompok itu mengaku tidak puas dengan pemberitaan itu karena merasa sama sekali tidak pernah dikonfirmasi oleh wartawan Indopos. Namun, penulis berita, mengaku sudah menjalankan tugasnya dengan mewancari pemimpin kelompok itu.Meski demikian, para penyerbu tetap tidak puas. Sebab, wawancara itu dilakukan wartawan Indopos di suatu acara di daerah Kuningan, Jakarta, bukan di Tanah Abang sebagaimana dalam tulisan Indopos edisi Senin 19 Desember itu.
(san/)











































