Perajin Cangkul di Klaten Bertahan di Tengah Persaingan Produk Impor

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 10:37 WIB
Pembuat cangkul di Klaten
Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom
Klaten -

Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, merupakan salah satu sentra produksi logam rumahan dengan produk utama alat pertanian seperti cangkul, sekop, gejig, garpu tanah, dan lain sebagainya. Para pandai besi di dukuh ini diwadahi dalam sebuah koperasi bernama Koperasi Industri Pandai Besi dan Las (Kopinkra 18).

Umar Dani, seorang pandai besi di Dukuh Karangpoh mengatakan sudah lebih dari 50 tahun pedukuhan ini menjadi pusat perindustrian cangkul yang produk-produknya sudah dipasarkan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, ia menilai masih banyak tantangan yang harus dihadapi dan industri ini masih bisa berkembang lebih baik lagi.

"Tantangan luar biasa, pertama peralatan pertanian seperti cangkul ini terdegradasi dengan modernisasi peralatan teknologi pertanian. Kedua, banyak anak-anak muda kita kadang tidak tertarik menekuni bidang pandai besi karena memerlukan tenaga fisik yang luar biasa," ucapnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Tantangan lain yakni persaingan pasar yang cukup ketat terutama dengan produk impor dari China. Menurutnya, dari segi kualitas, produk dalam negeri tak kalah bagusnya dengan produk-produk luar yang selama ini mendominasi pasar cangkul Indonesia.

"Tantangan kita ya itu pesaing kita produk dari China kemarin itu sebetulnya yang buat kita susah maju. Jadi cangkul dalam negeri agak tergeser. Jadi harapannya yuk satukan visi ini produk dalam negeri supaya bisa mengisi pembangunan," tukasnya.

Ia juga berujar saat ini produk cangkul dari Dukuh Karangpoh sudah semakin baik kualitasnya dan sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal itu, lanjutnya, berkat dukungan dari berbagai pihak untuk memajukan industri cangkul dalam negeri baik dari segi produk maupun SDM-nya.

Pembuat cangkul di KlatenPembuat cangkul di Klaten Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom

"Sering sekali ada pelatihan dilaksanakan dan diikuti oleh anggota kita, Kopinkra 18 yang berkaitan dengan basic mentality, managerial, keteknikan, membaca gambar teknik dan sebagainya. Serta mengembangkan produk berkualitas yang terstandardisasi. Jadi luar biasa, dukungan dari berbagai pihak untuk membuat cangkul yang lebih baik lagi di Kopinkra 18 ini, baik produknya maupun SDM-nya," ucapnya.

Salah satu pihak yang mendukung perkembangan industri cangkul di Dukuh Karangpoh ini adalah BANK BRI. Awal 2020 kemarin BANK BRI telah memberikan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa 2 unit air hammer.

BANK BRI juga menambahkan bantuan berupa bangunan workshop pande besi atau yang disebut rumah cangkul untuk meningkatkan kapasitas produksi cangkul dan meningkatkan kualitas cangkul perajin.

"Kita terima kasih dengan BANK BRI hadir tepat pada waktunya karena momentum kebangkitan cangkul ini sudah di depan mata, karena anak bangsa kita sudah bisa membuat produk cangkul SNI yang mampu mengisi kebutuhan dalam negeri sehingga tidak perlu lagi kita impor," tandasnya.

Selain bantuan tersebut, melalui kolaborasi dengan Kementerian Koperasi & UKM diberikan juga
pelatihan teknis cangkul SNI dan pendidikan perkoperasian. Dengan adanya bekal tersebut, diharapkan perajin siap produksi cangkul SNI untuk memenuhi kebutuhan cangkul nasional.

(prf/ega)