Pemondokan Haji di Madinah (2)
Sistem Perlu Segera Diubah
Rabu, 21 Des 2005 10:29 WIB
Madinah - Jamaah haji yang berkunjung ke Madinah mendapat pemondokan yang tidak sama. Ada jamaah haji yang mendapat penginapan di hotel berbintang, ada pula yangmendapatkan penginapan seadanya. Demi rasa keadilan, sistem pemondokan di Madinah perlu diubah pada musim haji tahun mendatang. "Sistem subsidi silang ini sangat tidak adil. Jamaah membayar biaya dalam jumlah yang sama, tapi mendapat pemondokan yang berbeda," kata anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Nursanita Nasution seusai mengunjungi pemondokan di Khazrul Haramain, di kawasan Masane, Madinah, Selasa (20/12/2005). Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memang melakukan subsidi silang dalam pemondokan di Madinah. Berdasarkan komponen Biaya Perjalanan Ibadah Haji(BPIH) yang telah disepakati pemerintah dan DPR, setiap jamaah haji membayar 500 Riyal untuk pemondokan selama 8 hari di Kota Suci Madinah. Menurut Nursanita, dengan membayar biaya yang sama, seharusnya jamaah haji juga mendapatkan hak yang sama. Sangat tidak tepat bila pemondokan ini dipakai sistem subsidi silang. Dengan sistem ini jelas akan memunculkan ketidakpuasan dari jamaah haji yang mendapat pemondokan yang jelek. Karena itu, Nursanita mengusulkan agar pada tahun mendatang dibuat sistem baru, yaitu jamaah haji yang mendapat penginapan di hotel berbintang agar membayar biaya lebih banyak dibanding jamaah haji yang mendapat pemondokan yang seadanya. "Cara ini bisa dilakukan, bila dari Tanah Air, penempatan pemondokan ini sudah jelas. Jangan sampai jamaah mengetahui menginap di hotel mana setelah sampai di Madinah," kata politisi berusia 44 tahun ini. Nursanita benar-benar sedih melihat nasib jamaah haji yang mendapat pemondokan yang seadanya itu. Pemondokan di Khazrul Haramain yang hanya terletak sekitar 200 meter dari Kantor PPIH Daker Madinah itu memang memprihatinkan. Lift di pemondokan tidak beroperasi. Akhirnya, para jamaah haji berjalan melalui tangga untuk menuju lantai atas atau saat turun. Bagi jamaah yang berada di lantai satu, tidak terlalu menjadi soal. Tapi, bagi jamaah haji yang berada di lantai empat, tentu jelas ngos-ngosan. Kamar yang disediakan juga bak barak. Setiap kamar diisi antara 12-17 orang. Ranjang dan kasur juga tampak sederhana. Ranjang terbuat dari besi, dengan rusuk-rusuk penahan kasur terbuat dari kayu. Jarak antara ranjang satu dengan ranjang lainnya juga sangat sempit, sekitar 20 cm. Bahkan, saat berkunjung, Nursanita juga melihat ada ranjang yang digunakan jamaah rusak. Jamaah perempuan itu memeragakan menggunakan ranjangnya yang rusuk kayunya tidak pas itu. "Ya begini ini, Pak. Kalau makai ranjang ini, ya harus hati-hati," terang jamaah itu. Nursanita mempertanyakan ketetapan tentang ukuran pemondokan bagi masing-masing jamaah haji. Hitung-hitungannya, seharusnya setiap jamaahsedikitnya akan mendapatkan ruang 3,5 meter persegi. "Kalau melihat ukuran ruangan ini, syarat tersebut tidak terpenuhi," ungkap Nursanita. Selain itu, yang memprihatinkan kamar mandi dan WC hanya ada 1 buah untuk dipakai beramai-ramai 17 jamaah haji. "Bagaimana kita bisa tenang, kalau fasilitasnya seperti ini. Ini sudah kamar mandi dan WC satu, WC-nya macet lagi," kata Suhadi, jamaah haji asal Karawang. Hal yang sama juga disampaikan Ketua Kloter 26 JKS, Edy Yusuf. "Jamaah sudah banyak yang mengeluh, karena pemondokan ini kurang layak. Terutama masalah kamar dan kamar mandi," kata Edy. Pihaknya sudah melaporkan kasus ini ke PPIH Subdaker I. Baihaki, salah seorang petugas medis di kloter tersebut juga mendapat laporan dari jamaah tentang ketersediaan air. "Air memang sering mati sejak kamidatang ke sini. Air baru mengalir, setelah kita meminta kepada petugas penginapan. Jadi, setiap hari kita harus melapor dulu, baru diisi air," ungkapBaihaki. Nursanita juga mempersoalkan tentang penempatan kamar yang dicampur antara laki-laki dan perempuan, meski mereka suami-istri. "Ini kan kurang Islami. Di mana privacy perempuan? Kan jamaah laki-laki bisa melihat jamaah perempuan lain yang bukan istrinya," keluh dia.BerantakanSaat dikunjungi, kamar di pemondokan ini juga tampak berantakan. Karena terbatasnya jemuran pakaian, para jamaah ini juga menjemur pakaiannya di dalam kamar. Tali-tali diikatkan ke setiap sudut kamar untuk membuat jemuran dadakan. Dan hasilnya, ya sangat tidak nyaman untuk ditinggali. Sementara Ahmad Fauzi, jamaah haji asal Bandung, mengeluhkan tidak adanya sarana transportasi menuju Masjid Nabawi. Padahal, jarak pemondokan menuju Masjid Nabawi cukup jauh. Karena itu, dirinya dan teman-temannya terpaksa menyewa mobil sendiri untuk berangkat ke masjid Nabawi. "Setiap jamaah membayar 2 Riyal untuk setiap kali berangkat ke Nabawi," ungkap dia. Ini baru salah satu contoh. Jangan-jangan bila ditinjau secara menyeluruh, banyak pemondokan yang berkondisi seperti ini, bahkan mungkin bisa lebih buruk lagi. Semoga tidak! Foto:Seorang jamaah haji perempuan memperlihatkan ranjangnya yang njeblos dipemondokan yang bak barak
(nrl/)











































