Lebih dari Setengah Abad Desa Ini Dikenal Sebagai Produsen Cangkul

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 27 Mei 2020 17:06 WIB
Pembuat cangkul di Klaten
Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom
Klaten -

Cangkul merupakan sumber penghidupan utama bagi sebagian besar warga Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karangnom, Kabupaten Klaten. Sudah lebih dari setengah abad, pedukuhan ini dikenal sebagai sentra kerajinan logam yang memproduksi cangkul-cangkul berkualitas.

Karena banyaknya warga yang memproduksi cangkul, warga Duku Karangpoh membentuk kelompok usaha Koperasi Pandai Besi dan Las.

"Kalau sepengetahuan saya, tahun 65, bapak-bapak kita di sini sudah produksi cangkul. Masyarakat kita di sini sudah biasa dengan produk cangkul dan alat-alat pertanian. Itu turun temurun dari generasi ke generasi. Kemudian ada satu kesadaran kolektif untuk menjadi sebuah kelompok," ungkap Ketua Koperasi Pandai Besi dan Las (Kopinkra 18), Umar Dani, kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Saat ini Kopinkra 18 mewadahi lebih dari 50 anggota yang semuanya melakoni profesi sebagai pandai besi. Ada sekitar 10 jenis produk yang dihasilkan oleh industri logam rumahan di dukuh ini, yang semua produknya dipasarkan tak hanya di Klaten tapi juga di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Alhamdulillah produk cangkul yang berbeda di sentra kita, yang tergabung dalam Kopinkra 18, kita sudah bisa membuat produk cangkul dari tipe a sampai tipe c. Semua produknya sudah SNI. Jadi semua jenis mutu, sudah bisa dibuat di Kopinkra 18," tambahnya.

Salah satu pandai besi di Dukuh Karangpoh, Supriyanto, menjelaskan proses pembuatan sebuah cangkul. Alat pertanian itu dibuat dari lempengan besi dan baja hingga siap dipasarkan ke konsumen.

Pertama, lempengan besi dan baja digambar membentuk cangkul menggunakan sebuah cetakan yang telah terstandardisasi.

Lempengan besi dan baja yang telah digambar, akan masuk ke proses pemotongan menggunakan mesin potong. Setelah itu, besi tersebut akan diluruskan menggunakan martil. Setelah pelurusan, masuk ke proses pengepunan. Ini adalah proses pembuatan lobang untuk tempat gagang cangkul.

Pembuatan cangkul di KlatenPembuatan cangkul di Klaten Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom

"Setelah pengepunan, kita akan masuk ke pengepresan. Setelah dipres, lalu kita masuk ke pengelasan. Setelah itu penggerindaan, penghalusan di body-nya atau pengikiran. Setelah itu pelebelan. Setelah itu baru pengecatan, terakhir pengepakan dan siap dikirim. Itu kalau yang nonbaja," ungkapnya.

Lain halnya untuk proses pembuatan cangkul sambung baja. Ada sedikit perbedaan dengan cangkul biasa. Bedanya terletak setelah proses pelurusan. Setelah pelurusan ada proses pengelasan untuk menyambungkan antara besi dan baja.

"Setelah pelebelan, kita lakukan penyepuhan, plat sambung tadi dengan bajanya kita keraskan. Ada dua versi pakai air atau oli. Setelah penyepuhan lalu kita gosok pakai pasir dan sabut kelapa. Baru itu, pengepisan, biar ada karakter, lalu pengecatan, pengepakan dan siap kirim," paparnya.

Menurut Supriyanto, saat ini para pelaku industri logam rumahan di Dukuh Karangpoh memiliki banyak kemajuan, terutama di sisi produktivitas dan kinerja. Perubahan pertama yang begitu nyata dirasakan yakni dengan adanya pendampingan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).

Selain itu, tambahnya, adanya Corporate Social Responsibility (CSR) dari BANK BRI berupa 2 unit air hammer dan bangunan workshop pandai besi atau yang disebut rumah cangkul. Rumah tersebut bisa membantu para pandai besi dalam meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk cangkul.

Pembuatan cangkul di KlatenPembuatan cangkul di Klaten Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom

Selain bantuan tersebut, melalui kolaborasi dengan Kementerian Koperasi & UKM para pandai besi Dukuh Karangpoh terutama para anggota Kopinkra 18 juga diberikan pelatihan teknis cangkul SNI dan pendidikan perkoperasian. Dengan adanya bekal tersebut, diharapkan perajin cangkul siap produksi produk SNI untuk memenuhi kebutuhan cangkul nasional."Bantuan dari BANK BRI itu memang betul-betul bermanfaat bagi para perajin khususnya di Kopinkra 18. Karena selama ini produk yang kita hasilkan cuma mengandalkan tenaga manusia. Jadi kalau sebelum ada air hammer, penempaan cuma bisa 100 biji cangkul, setelah ada air hammer diperkirakan penempaan bisa mencapai 200 biji cangkul. Jadi betul-betul menunjang produktivitas penempaan," pungkasnya.

(prf/ega)