35 Tahun Produksi Cangkul, Ini yang Bikin Warga Klaten Bertahan

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 27 Mei 2020 10:10 WIB
Pembuat cangkul di Klaten
Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom
Jakarta -

Tak mudah setia di satu profesi yang sama. Namun hal itu sama sekali tak dirasakan Supriyanto. Warga Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten ini telah menekuni profesi sebagai pandai besi sejak 35 tahun yang lalu.

"Awal mulanya saya bekerja di tetangga sejak tahun 1985 dan waktu itu saya berpikir kalau saya terus ikut tetangga tidak ada perkembangan. Saya berpikir kalau ke depannya punya anak dan istri, jadi saya memutuskan tahun 1989 saya buka usaha sendiri dengan hasil bekerja dengan tetangga saya cicil untuk membikin alat-alat sedikit demi sedikit," ungkapnya kepada detikcom sembari menyusuri ingatannya beberapa waktu lalu.

Bekerja sebagai pandai besi bukan berarti tanpa kendala. Terkadang ia pun kesulitan dalam memperoleh modal usaha hingga bahan baku baja dan besi di wilayahnya. Untuk masalah pemasaran pun tak selancar yang diperkirakan.

"Namanya usaha pasti ada susahnya mbak, tapi ya alhamdulillah sejak 1989 sampai sekarang, kami memproduksi cangkul yang benar-benar kami jaga kualitasnya. Akhirnya alhamdulillah sampai sekarang kami masih berjalan dengan eksis untuk peluang-peluang pasar yang kami setor atau yang kita kirim," ungkapnya.

Kualitas adalah kunci ia bisa bertahan hingga saat ini. Dengan modal Rp1 juta, usahanya pun berkembang dan mampu bertahan selama 30 tahun lebih.

Pembuat cangkul di KlatenPembuat cangkul di Klaten Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom

Setelah berkembang dan bisa memasarkan di beberapa wilayah di Jawa Tengah dan jawa Timur, Supriyanto pun berinisiasi untuk melebarkan usahanya lagi.

Selain membuat cangkul ia juga memiliki proyek kecil-kecilan. Contohnya usaha penjualan baja dan besi, hingga produksi untuk pemasaran yang lebih luas lagi.

"Saya berpikirnya kita nggak cuma bekerja memproduksi alat pertanian saja tapi saya juga gunakan uang itu untuk dana pendampingan proyek-proyek kecil. Dan dana pinjaman itu sangat membantu sekali, karena kalau di daerah kita itu biasanya langka baja, jadi saya punya link di Wonosobo, Tulungagung dan Ponorogo lalu kita pasarkan di sini. Terus saya nggak cuma main di baja saja tapi juga main di besinya," jelasnya.

Dari hasil usahanya ia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses menjadi sarjana dan PNS. Ia juga bisa membuat rumah serta membeli kendaraan dan kebutuhan harian dari hasil produksi cangkul yang ia tekuni 35 tahun ini.

"Cangkul bagi saya sangat berguna bagi kehidupan, karena dengan cangkul juga saya bisa membangun rumah, dengan cangkul saya bisa menyekolahkan anak-anak. Dengan cangkul juga kita bisa punya apapun yang kita inginkan, seperti kendaraan yang bisa kita pakai untuk antar anak-anak ke sekolahan," pungkasnya.

(prf/ega)