Ini Indikator Kesehatan Masyarakat Guna Petakan Risiko Corona di Tiap Daerah

Yogi Ernes - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 15:12 WIB
Wiku Adisasmito
Wiku Adisasmito (Kanan) (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan pihaknya kini berupaya memetakan risiko virus Corona di setiap daerah. Wiku menyebutkan ada tiga indikator kesehatan masyarakat yang dinilai guna menemukan data analisis risiko Corona di tiap daerah.

Wiku menjelaskan ketiga indikator tersebut merupakan sisi epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, hingga layanan kesehatan rumah sakit yang menangani pasien Corona. Indikator kesehatan masyarakat tersebut juga untuk menentukan apakah sebuah daerah siap melakukan kegiatan sosial ekonomi berikutnya di tengah pandemi.

"Jadi, kalau indikator epidemiologi itu misalnya penurunan jumlah kasus positif selama dua minggu sejak puncak terakhir harus 50% penurunannya. ODP (orang dalam pantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), itu kasusnya selama 2 minggu dari sejak puncak terakhir itu juga harus turun selama 50%. Itu harus konsisten ya selama dua minggu itu," kata Wiku dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (26/5/2020).

Indikator kedua, lanjut Wiku, merupakan surveilans. Dia menjelaskan pemeriksaan laboratorium terkait Corona harus meningkat.

"Jangan kasusnya turun tapi enggak diperiksa. Jadi banyak yang diperiksa lab dan banyak yang negatif. Giliran kenaikan pemeriksaan naik dan yang positifnya harus kecil di bawah 5%," jelasnya.

Layanan kesehatan menjadi indikator kesehatan masyarakat terakhir guna melihat suatu daerah berstatus risiko Corona tinggi atau tidak. Wiku menyebutkan, dalam indikator ini akan melihat terkait kesiapan rumah sakit khusus penanganan kasus virus Corona.

"Jadi yang dimaksud itu adalah dilihat jumlah tempat tidurnya, jumlah APD (alat perlindungan diri) yang digunakan rumah sakit yang merawat pasien positif Corona," terang Wiku.

Lebih lanjut Wiku mengungkapkan masyarakat bisa berperan aktif dalam pemenuhan data tiga indikator kesehatan masyarakat tersebut lewat aplikasi Bersatu Lawan COVID (BLC). Dia menyebutkan, dengan makin banyak masyarakat yang mengisi data di aplikasi tersebut, akan makin akurat pula data analisis resiko sebuah daerah.

"Ini sebenarnya alat navigasi kita dan untuk itu masyarakat wajib untuk terlibat ini, salah satunya dengan download aplikasi Bersatu Lawan COVID (BLC). Jadi, ini sebuah sistem di mana seluruh data menjadi bersatu. Kalau masyarakat berpartisipasi mengisinya kita bisa menggambarkan peta risiko yang ada di sekitar kita," ucapnya.

"Sekarang sudah bisa di-download kita bisa masukan data status kesehatan, NIK, nomor telpon. Jadi untuk pelaku perjalanan yang mau kembali ke Jakarta yang sekarang mau mengisi SIKM, ini bisa terintegrasi di sini. Makin banyak yang download di situ, maka akan semakin tajam data analisis risikonya," lanjut Wiku.

(elz/elz)