Satwa Dilindungi Lahir di Tengah Pandemi, Orang Utan Hingga Kasuari

Yudistira Imandiar - detikNews
Senin, 25 Mei 2020 18:24 WIB
Orang Utan
Foto: dok KLHK
Jakarta -

Seekor bayi orang utan betina lahir di Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor, Jawa Barat tepat di Hari Raya Idul Fitri, Minggu (24/5/2020). Bayi orang utan itu merupakan hasil perkawinan induk bernama Evi dan jantan bernama Ipung.

"Alhamdulillah, di hari bahagia Idul Fitri sekaligus prihatin dengan situasi pandemi COVID-19, telah lahir jam 05.00 WIB bayi orang utan betina," ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2020).

"Bayi orangutan ini merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari induk Evi dan jantan Ipung. Mengingat kelahirannya masih dalam suasana hari raya Idul Fitri, saya menamakan bayi orangutan ini dengan nama Fitri," lanjut Menteri Siti.

Kelahiran Fitri melengkapi kabar bahagia dari TSI Bogor masih dalam momentum Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia yang diperingati setiap 22 Mei. Sebelumnya, seekor anakan gajah lahir di TSI pada akhir April lalu. Anakan gajah ini diberi nama Covid, lantaran lahir pada saat dunia mengalami pandemi COVID-19.

Selama penutupan lembaga konservasi di tengah penerapan sosial berskala besar (PSBB), banyak satwa yang lahir di lembaga konservasi di beberapa daerah, antara lain gajah sumatera di TSI Cisarua dan Gembira Loka Yogyakarta, komodo (12 ekor), burung kasturi raja (1 ekor), orangutan Fitri di TSI Cisarua, tarsius (1 ekor) di Faunaland Ancol, kasuari (3 ekor) di R Zoo and Park Sumatera Utara, serta satwa-satwa eksotik lainnya seperti jerapah, zebra dan common marmoset.

Siti menambahkan, kelahiran bayi satwa menandakan pengelola lembaga konservasi telah menerapkan kesejahteraan satwa dengan baik. Hasilnya, satwa dapat berkembang biak secara alami dan telah menjalankan fungsinya sebagai tempat pengembangbiakan di luar habitat dengan tetap mempertahankan kemurnian genetiknya.

"Diharapkan melalui program breeding terkontrol ini, program konservasi ex-situ link to in-situ bisa dijalankan dan pada akhirnya peningkatan populasi in-situ dapat tercapai," kata Siti.

KLHK juga telah melakukan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya dari pusat rehabilitasi, pusat penyelamatan, dan unit konservasi satwa lainnya sebanyak 214.154 satwa sepanjang tahun 2016-2020.

Siti menjelaskan, pengelolaan populasi spesies terisolasi, konektivitas kantung-kantung habitat satwa, dan penciptaan kantung-kantung baru mesti dilakukan untuk mendukung peningkatan populasi serta pengelolaan metapopulasi.

"Untuk itu, saya sedang kembangkan kebijakan untuk mendorong adanya konektivitas kantong-kantong baru satwa melalui pengembangan sistem kawasan lindung yang mencakup areal yang bernilai konservasi tinggi di konsesi-konsesi sektor kehutanan dan perkebunan. KLHK telah mengidentifikasi ada 1,4 juta hektar area bernilai konservasi tinggi yang dapat masuk ke dalam sistem kawasan yang dilindungi," ungkap Siti.

Pada tingkat spesies, Indonesia telah menyusun peta jalan untuk memulihkan populasi 25 spesies target yang terancam punah. Melalui lebih dari 270 lokasi pemantauan, beberapa populasi spesies meningkat, seperti jalak bali, harimau sumatera, badak jawa, gajah sumatra, dan elang jawa.

Sementara itu, pada tingkat genetik, Indonesia telah mempromosikan bioprospeksi (bioprospecting) untuk keamanan dan kesehatan pangan, seperti Candidaspongia untuk anti-kanker, dan Gaharu untuk disinfektan, yang produksinya telah ditingkatkan selama pandemi COVID-19 ini.

(ega/ega)