Gerbong Politik Papua Pascawafatnya Solossa

Gerbong Politik Papua Pascawafatnya Solossa

- detikNews
Selasa, 20 Des 2005 19:39 WIB
Jakarta - Gubernur Papua JP Solossa telah wafat. Kepergian mastermind Otsus Papua ini bak meninggalkan bom waktu pertikaian 3 blok, yakni pro-Otsus Papua, anti-Otsus Papua, dan Papua Merdeka."Bagi kami, konflik yang lebih parah pascameninggalnya Solossa pasti akan akan terjadi di atas tanah Papua," kata Ketua Umum Eksekutif Nasional Front Persatuan Perjuangan Rakyat (Pepera) Papua Barat Hans Gebze dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (20/12/2005).Saat menerima kabar meninggalnya Solossa, Hans yang juga Dewan Penasihat Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) ini sempat mengiranya sebagai black propaganda yang hendak dimainkan kelompok lawan politik Solossa menjelang Pilkada Papua pada Januari 2006. Namun ternyata kabar itu benar adanya."Kami tidak memiliki sebuah jawaban atau angka politik yang pasti untuk menafsirkan gerbong politik Papua akan bergerak ke mana pascawafatnya Solossa," ujar Hans.Dia pun hanya bisa menyerukan kepada mereka yang bertikai mulai mengambil langkah politik untuk menyelesaikan semua permasalahan politik.TemperamentalHans terkenang dengan sikap Solossa yang temperamental. Meski demikian, diakuinya Solossa berhasil menjadi gubernur Papua sampai akhir hayatnya.Sikap temperamental Solossa terlihat saat menjadi Ketua Umum KONI Papua. Saat itu dia melikuidasi tokoh kuat organisasi olahraga itu, yakni mantan Gubernur Irian Jaya Barat Brigjen TNI (Purn) Bram Oktovianus Aturury.Setelah menjadi gubernur Papua, 3 jabatan wakil gubernur Papua dilikuidasi Solossa. "Alasannya sederhana, Aturury adalah salah satu wagub Papua waktu itu," tutur Hans.Solossa dan Aturury kemudian menjadi 2 kekuatan elit Papua. Solossa menjadi gubernur Papua, dan Aturury menjadi gubernur Irian Jaya Barat.Rakyat Papua pun terpecah menjadi tiga kelompok, yakni pro-Solossa dengan Otsus Papuanya, pro-Aturury dengan pemekaran Papuanya, dan blok politik Papua Merdeka."Hari-hari panjang dan melelahkan mulai dialami rakyat Papua dengan reklame politik otsus versus pemekaran. Solossa dengan gaya temperamentalnya, Aturury dengan gaya militeristiknya," paparnya.Yang kemudian disesali, lanjut dia, adalah korban yang jatuh di antara rakyat Papua Barat yang seharusnya tidak dikorbankan untuk kepentingan-kepentingan politik para elit tersebut."Dalam banyak hal, kami bertentangan secara politik dengan almarhum Solossa. Namun tanpa memandang dia sebagai kawan ataupun lawan, sesuai tradisi Melanesia, kami memberikan rasa penghormatan kepadanya," ujar Hans.Dia pun kembali menyampaikan harapan ada perubahan berarti dan ada jalan damai bagi semua pihak yang bertikai pascawafatnya Solossa. (sss/)


Berita Terkait