Kolom Hikmah

Buah Damai Taqwa Puasa

Abdurachman - detikNews
Minggu, 24 Mei 2020 07:54 WIB
One Day One Hadits, Kekayaan Allah Tak Habis Meski Banyak DIberikan Pada Hamba-Nya
Foto: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

"Enyahlah dari sisiku hai perempuan najis", begitu teriak seorang yang merasa dirinya telah dekat kepada Allah swt. (baca: taqwa).

Suatu ketika ada seorang alim (Fulan) yang sedang berjalan di bawah terik matahari. Derajat kealiman mampu mengantarnya ke tingkat taqwa, terpenuhi segala kebutuhan dirinya. Sementara Fulan berjalan, sekelompok awan menlindunginya dari terpaan terik matahari.

Di sudut lain tampa ia sadari, seorang perempuan pekerja sosial sedang mengamatinya penuh rasa hina. Ia merasa; penuh dosa, tidak pantas memperoleh kehormatan, terlebih kemuliaan sebagaimana yang diterima Fulan. Saking mulianya, Fulan berjalan pun dilindungi awan.

Akan tetapi, jauh di lubuk hati perempuan itu, muncul keinginan kuat untuk terbebas dari seluruh kotoran dosa, ingin selamat. Bahkan jika mungkin ia akan berusaha sekuat tenaga segera bertaubat. Keinginan kuat memberanikan dirinya mendekat kepada Fulan.

"Memang aku penuh dosa, tapi siapa tahu jika aku mendekat kepada Fulan aku bisa memperoleh sebagian rahmat Allah yang dilimpahkan kepadanya", bisiknya dalam hati.

Maka bergeraklah ia mendekat kepada Fulan. Sambil ia membayangkan sambutan ramah dari Fulan tiba-tiba harapannya mendadak sirna, "Enyahlah dari sisiku hai perempuan najis", terdengar hardikan itu bagai petir meledak di telinganya!

Kaget, merasa semakin bertambah salah, penuh ketakutan, perempuan itu hatinya membenarkan apa yang disampaikan Fulan bahwa dirinya penuh najis, penuh hina. Namun, seketika itu awan yang menaungi Fulan berpindah ke atas kepalanya, melindunginya dari terik matahari. Subhaanallah, Maha Suci Allah!

Fulan dengan kealimannya mampu mengungkit kedudukannya mencapai derajat kemuliaan wali Allah. Sayangnya, pada saat Fulan memiliki kemuliaan, sombongnya muncul, merasa mulia. Sombong menyebabkan Fulan tersungkur, awan berpindah. Sementara perbuatan maksiat yang mengantar perempuan itu kepada rasa hina mendalam, disertai upaya sungguh-sungguh bertaubat agar memperoleh rahmat Allah menggesernya memiliki kemuliaan layaknya kedudukan para wali Allah, dilindungi awan.

Peristiwa ini mengingatkan kita kepada kejadian, saat seorang dari bangsa jin telah melakukan ketaatan sekian ratus tahun. Ketaatan yang menyampaikannya pada posisi setingkat dengan kedudukan para malaikat. Tiba-tiba ketika datang perintah Allah untuk "sujud" kepada Nabi Adam dia menolak, sombong. Sikap sombong mampu merontokkan ketaatan yang diupayakan sangat lama. Kita memohon ampunan Allah, kita berlindung kepada Allah dari semua bentuk maksiat terutama sombong. Ialah meremehkan orang lain, merasa diri mampu berbuat baik dan merasa diri lebih baik.

Puasa ramadan mewajibkan orang-orang beriman mencapai tingkat taqwa yang lebih sempurna (QS 2:183). Taqwa yang memberikan jaminan kepada siapa pun mampu memiliki fasilitas; memperoleh pengajaran langsung dari Allah (QS 2:282), membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah) (QS 8:29), solusi dari setiap masalah (QS 65:2), kemudahan dalam menjalankan solusi (QS 65:4), rizki dari arah yang tidak terduga (QS 65:3), ampunan Allah (QS 8:29) dan dimasukkanNya ke dalam surga.

Semua itu bagi orang yang ikhlash tidak membuatnya sombong. Ialah merasa dirinya mampu melakukan kebaikan tampa pertolongan Allah. Orang ikhlash merasa bahwa seluruh perbuatan baik, kesanggupannya menghindar dari maksiat karena anugerah rahmat Allah semata. Orang ikhlash sadar bahwa dirinya hanyalah hamba Allah, sehingga jika mampu melakukan kebaikan tidak membuatnya sombong, tidak membuatnya berhak meremehkan orang lain.

Pada kasus Fulan, sombong membuatnya menghardik perempuan yang dianggap hina. Boleh jadi di jaman sekarang ada orang yang merasa diri sudah sangat taqwa. Merasa berhasil mencapai taqwa karena telah merasa sempurna melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain selama bulan ramadan. Lalu sikap ini membuat si pelaku berhak menolak permintaan maaf orang lain, atau membuat pelaku enggan meminta maaf. Kita berlindung diri kepada Allah swt dari yang demikian.

Hari raya Iedul Fitri 1441 Hijriyah ini adalah kesempatan bagi kita untuk memuliakan diri, melalui saling memaafkan. Bahkan kita berdoa agar Alah swt. memaafkan seluruh kesalahan kita dan semua kesalahan orang-orang yang mungkin bersalah kepada kita.

Terbayang keadaan damai menyelimuti kehidupan kita; pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Kehidupan saling memaafkan, kehidupan damai buah taqwa puasa.

Taqabbal Allaahu minnaa wa minkum taqabbal yaa al-Kariim. Semoga Allah swt. menerima puasa dan seluruh ibadah kita, kabulkanlah doa kami duhai Tuhan Yang Maha Mulia, aamiin.

Abdurachman

Guru Besar Universitas Airlangga, Takmir Masjid FK Unair

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pengirim.

(erd/erd)