Ungkap 3.324 Anak PDP Corona, IDAI: Tidak Benar Anak Tak Rentan COVID-19

Yulida Medistiara - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2020 14:36 WIB
Close-up thermometer. Mother measuring temperature of her ill kid. Sick child with high fever laying in bed and mother holding thermometer. Hand on forehead.
Ilustrasi (iStock)

Ketiga, upaya pemenuhan kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak harus tetap berjalan sesuai dengan jadwal bagi seluruh anak Indonesia. Adapun pelayanan kesehatan dasar, seperti asuhan neonatal esensial, imunisasi, pemenuhan nutrisi lengkap seimbang, suplementasi sesuai kebutuhan, stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuh kembang, serta berbagai program terkait kesehatan anak yang sempat terganggu pada awal masa pandemi COVID-19 harus kembali berjalan optimal.

Keempat, IDAI menganjurkan agar pelayanan imunisasi harus tetap dapat diberikan dengan pengaturan tertentu di daerah dengan kasus positif COVID-19. Tidak lagi disarankan untuk menunda imunisasi, terutama bagi bayi dan anak yang masih sangat muda. Anak yang imunisasinya sempat tertunda sebaiknya direncanakan imunisasi kejar.

Kelima, pemantauan pertumbuhan perkembangan tetap dilakukan sesuai jadwal SDIDTK (stimulasi, deteksi, intervensi dini tumbuh kembang) yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan. Keenam, IDAI meminta agar kegiatan pendidikan anak usia dini sebaiknya dilakukan di rumah dalam lingkungan keluarga dalam bentuk stimulasi berbagai ranah perkembangan dalam lingkungan penuh kasih sayang oleh anggota keluarga yang sehat.

Ketujuh, IDAI meminta agar kegiatan pembelajaran bagi anak usia sekolah dan remaja sebaiknya tetap dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran jarak jauh. Mengingat sulitnya melakukan pengendalian transmisi apabila terbentuk kerumunan.

"Ikatan Dokter Anak Indonesia menyampaikan apresiasi atas kehandalan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengembangkan berbagai bentuk pembelajaran jarak jauh, termasuk bentuk kegiatan belajar daring. Hal ini disarankan untuk tetap dilanjutkan mengingat kemungkinan bulan Juli wabah belum teratasi dengan baik," ujar Aman.

Tatanan kehidupan normal baru memerlukan penyesuaian kebiasaan dalam interaksi sosial sesuai budaya di tempat masing-masing, tapi harus tetap mengutamakan pembatasan fisik untuk mencegah penyebaran virus Corona. Masyarakat diminta menyadari pentingnya kegiatan beribadah, belajar, dan berkegiatan di rumah saja, bahkan dalam suasana liburan.

"Sebaiknya menghindari kontak fisik yang berisiko penularan, seperti mencium bayi. Anggota keluarga yang terpaksa keluar rumah untuk bekerja, terutama yang berisiko misalnya nakes, pengguna angkutan umum, bekerja di tempat keramaian dan sebagainya harus tetap melakukan pengendalian infeksi baik saat di tempat kerja maupun saat tiba di rumah," ungkap Aman.

IDAI meminta agar opsi pelonggaran maupun penghentian pembatasan sosial berskala besar (PSBB) harus didasari analisis kurva epidemiologis secara saksama dan meyakinkan sehingga tidak memajankan anak terhadap risiko tertular. Tak hanya itu, IDAI meminta masyarakat menjaga kesehatan dengan makan nutrisi lengkap dan seimbang, perbanyak memakan buah dan sayuran, istirahat cukup, dan aktivitas fisik sesuai usia.

"Setiap anggota IDAI dihimbau untuk siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mempersiapkan tatanan kehidupan normal baru yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia. Dalam melaksanakan hal tersebut koordinasi melalui Satuan Tugas COVID-19 IDAI," papar Aman.

selanjutnya
Halaman

(yld/zlf)