Disiapkan Stimulus Rp 112 Miliar Bagi Perbaikan Lingkungan
Selasa, 20 Des 2005 12:50 WIB
Jakarta - Pemerintah berjanji memberikan dana sekitar Rp 112,875 miliar pada 333 kabupaten dan kota pada tahun 2006. Dana ini merupakan dana alokasi khusus bidang lingkungan hidup sebagai stimulan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Stimulus ini diberikan karena saat ini ditemukan indikasi adanya penurunan kualitas lingkungan hidup di berbagai daerah terutana kualitas air, udara, dan tanah yang mengakibatkan kerugian besar bagi perekonomian negara secara keseluruhan. "Dana itu akan dibagikan ke setiap kabupaten/kota, startingnya dari Rp 300 juta. Yang paling tinggi ada yang menerima Rp 1,7 miliar," kata Menneg Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (20/12/2005).Besarnya alokasi dana stimulan itu didasarkan pada kemampuan fiskal setiap daerah. "Jadi ada sekitar 111 kabupaten/kota yang tidak menerima dana alokasi khusus bidang lingkungan hidup tahun 2006 mendatang antara lain DKI Jakarta, Riau, dan Kalimantan Timur. Dana itu lebih dikonsentrasikan untuk pemberdayaan air bersih," tutur Rachmat Witoelar.Sementara itu, Deputi Deputi II Kementerian Negara Lingkungan Hidup Masnelyarti Hilman menyebutkan saat ini ada 33 sungai di Indonesia yang sudah dalam keadaan kritis, di mana pada hilir sudah tercemar seluruhnya, dan 50 persen hulu sudah tercemar, serta 50 persen adalah kerusakan tanah dan erosi.Dalam kesempatan berbeda, Menneg LH Rachmat Witoelar dan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Prabowo Subianto menandatangani nota kesepahaman tentang pengembangan peran masyarakat tani dalam pengelolaan lingkungan hidup seluruh Indonesia. Tujuan MoU ini adalah untuk agar tumbuh kesadaran dan pemberdayaan sehingga tercipta kemandirian masyarakat tani Indonesia."KLH tanpa HKTI tidak akan dapat berjalan secara maksimal. Perlu dibuat early warning system untuk kepentingan masyarakat tani seperti adanya kerawanan pangan, dan bencana alam. Disamping itu perlu dialihkannya paradigma masyarakat dalam penggunaan pupuk dari pupuk kimia ke pupuk organik," ujarnya.
(san/)











































