Putus Rantai Penyebaran COVID-19, Objek Wisata di Bengkulu Ditutup Sementara

Hery supandi - detikNews
Kamis, 21 Mei 2020 09:09 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pengamanan dan penegakan protokol kesehatan dalam rangka menyambut hari Raya Idul Fitri 1441 H/2020 M diterapkan di Provinsi Bengkulu untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Upaya pemutusan juga dilakukan dengan menutup sementara objek wisata yang ramai saat Lebaran.

Penutup disebut akan dilakukan secara persuasif dan juga tegas namun juga humanis. Hal ini mengingat penutupan objek wisata tidak bisa dilakukan dengan cara paksa.

"Karena memang ini tidak bisa kita laksanakan secara keras, harus ada aturan yang juga perlu kita siapkan," jelas Kapolda Bengkulu Irjen Teguh Sarwono, Kamis (21/5/2020).

Teguh mengatakan penutupan wisata tersebut dilakukan bekerja sama dengan TNI dan Satpol PP provinsi dan kabupaten/kota. Terkait dengan pengamanan pintu perbatasan terkait larangan mudik, menurut Teguh, hal tersebut akan terus dilakukan secara tegas.

"Jadi kita juga telah menyepakati dengan posko perbatasan terutama antar-provinsi. Jika ada kendaraan dan orang yang akan masuk ke Bengkulu kita perintahkan kembali ke daerahnya, begitu pun sebaliknya jika ada warga dan kendaraan dari Bengkulu yang ingin keluar," ujar Teguh.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah meminta pimpinan NU dan Muhammadiyah meneruskan kesepakatan atas instruksi pemerintah untuk Takbir, Shalat Idul Fitri dan Berlebaran di rumah saja hingga ke masing-masing warga.

"Sehingga masyarakat menjadi tenang dan tidak ada kekhawatiran dalam menyambut hari kemenangan Idul Fitri, walaupun di tengah pandemi COVID-19 ini," harap Rohidin.

Ketua BMA Provinsi Bengkulu S Effendi menjelaskan, secara tatanan adat kondisi saat ini merupakan yang luar biasa sehingga menjadi hal wajar jika kita tidak bisa saling berkunjung ke rumah sanak famili, yang hal ini merupakan adat masyarakat Bengkulu.

"Jadi untuk tahun ini mari kita manfaatkan media dan alat komunikasi yang ada karena itu tidak akan melanggar adat istiadat dan itu sama nilainya, baik di mata agama maupun adat istiadat kita," jelas Effendi.

(dwia/dwia)