Peranan Pemegang Izin Kelola Hutan Berdayakan Masyarakat Saat Pandemi

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Selasa, 19 Mei 2020 21:24 WIB
KLHK
Foto: KLHK
Jakarta -

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Plt Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Bambang Hendroyono menjelaskan peranan pemegang Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) yang memiliki kewajiban dalam melakukan kelola sosial dan pemberdayaan masyarakat, selain memanfaatkan hutan produksi untuk kepentingan bisnis.

IUPHHK-HTI merupakan izin yang diberikan oleh KLHK untuk memanfaatkan serta mengelola kawasan hutan dengan fungsi Hutan Produksi (HP). Yang mana hasilnya digunakan dalam rangka pemanfaatan pemenuhan bahan baku kayu, bahan baku kertas (pulp) atau untuk kepentingan energi terbarukan.

"Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang merupakan pembina IUPHHK mengharapkan bahwa dengan peran aktif pemegang IUPHHK dalam masa pandemi COVID-19 dapat membantu perekonomian masyarakat di sekitar areal konsesi IUPHHK," ujar Bambang, dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2020).

Terkait hal tersebut, Bambang menuturkan perusahaan Asia Pulp and Paper Group (APP) Sinar Mas yang menaungi beberapa pemegang IUPHHK mempunyai Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang bertujuan menekan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, DMPA juga berfungsi untuk memberdayakan masyarakat desa dalam konsesi maupun sekitar konsesi melalui pengelolaan tanaman kemitraan di dalam areal kerja perusahaan. Jenis-jenis tanaman yang dikelola oleh masyarakat desa binaan adalah jahe, kunyit, lengkuas dan hasil hutan bukan kayu seperti madu dan lainnya.

Dalam situasi pandemi, APP Sinar Mas melalui DMPA juga terus meningkatkan produksi jahe merah dan madu untuk mendukung kebutuhan jahe dan madu di masa pandemi yang meningkat. Peningkatan produksi jahe merah dilaksanakan oleh APP Sinar Mas pada Desa Binaan di IUPHHK-HTI PT. Wirakarya Sakti di Provinsi Jambi, dan peningkatan produksi madu kelulut dilaksanakan pada Desa Binaan IUPHHK-HTI PT. Finnantara Intiga di Provinsi Kalimantan Barat. Selama pandemi COVID-19, produksi tanaman jahe merah tersebut meningkat 2 kali lipat menjadi 350 kg per bulan, serta produksi madu meningkat 3 kali lipat menjadi 100 kg per bulan.

"Berdasarkan prediksi BMKG, pada bulan Mei dan Juni curah hujan akan menurun di beberapa wilayah. Program DMPA diharapkan dapat menekan kebakaran hutan dan lahan akibat metode bertanam tradisional," ujar Bambang.

Selain itu, APP Sinar Mas telah menyumbangkan masker dan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Sementara, kelompok tani DMPA binaan perusahaan di Desa Dataran Kempas, Jambi pun telah menyumbangkan 2.000 masker kepada masyarakat lainnya. Selain APP Sinarmas, Royal Utama Group yang menaungi pemegang IUPHHK yaitu PT Lestari Asri Jaya (LAJ) dan PT Wana Mukti Wisesa (WMW) juga melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan kemitraan kehutanan yang berada di sekitar areal kerjanya.

Bambang mengatakan pada masa pandemi COVID-19, PT. LAJ dan PT. WMW telah menyalurkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) dan obat herbal seperti jahe dan buah semangkuk (tempayang) yang merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari petani binaan kepada 184 orang tenaga medis di Tebo, Jambi.

PT LAJ dan PT WMW melakukan pemberdayaan masyarakat pada 10 Kelompok Tani Hutan (KTH) di dalam dan sekitar area kerja seperti, Desa Balai Rajo, Desa Sungai Karang, Desa Napal Putih, Desa Pemayungan, Desa Kuamang dan beberapa desa lainnya di Kabupaten Tebo, Jambi dengan jumlah 333 petani yang bergabung. Selain itu, program ini juga menyasar tiga kelompok Suku Anak Dalam (Orang Rimba) yang tinggal di area kerja perusahaan.

"Melalui program kemitraan dan pemberdayaan masyarakat, perusahaan memberikan bantuan peningkatan kapasitas pengelolaan tanaman karet dengan teknologi terkini. Mereka juga mengajak warga untuk menggunakan lahan secara intensif dengan pertanian terpadu atau dapat disebut wanatani atau agroforestry guna memperkuat ketahanan pangan. Masyarakat yang tergabung dalam sejumlah Kelompok Tani Hutan juga mendapatkan bantuan benih unggul, pupuk, peralatan pertanian, transfer teknologi dan pendampingan sehingga dapat membudidayakan komoditas pangan seperti padi, sayur-mayur, ikan lele, ikan nila, dan buah-buahan di lahan mereka. Selain itu hasil produksi dari lahan mereka berupa karet, sayur mayur dan buah buahan juga diserap oleh perusahaan sesuai harga pasar sehingga pendapatan mereka meningkat," jelas Bambang.

PT LAJ dan PT WMW terus melakukan program kemitraan dan pemberdayaan termasuk ketika pandemi COVID-19 dengan memberikan berbagai bantuan bagi masyarakat dan bersama-sama pemerintah daerah melakukan edukasi dan sosialisasi. Hal ini sebagai wujud partisipasi aktif perusahaan dalam mendukung upaya pemerintah menanggulangi penyakit yang diakibatkan oleh virus COVID-19.

(akn/ega)