Melongok Pembuatan Kain Tenun dari Kota Sutera di Sulsel

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 19 Mei 2020 10:30 WIB
Pembuatan kain tenun
Foto: Nurcholis Maarif/detikcom
Makassar -

Bunyi hentakan antar kayu sudah biasa terdengar dari rumah-rumah warga di perkampungan di Kota Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan. Bunyi berisik yang terdengar dari pagi hingga sore tersebut berasal dari alat tenun kayu yang digunakan masyarakat membuat kain tenun.

Sengkang dapat ditempuh sekitar 5 hingga 6 jam dari Kota Makassar. Kata salah satu warga Sengkang, Ariyanti, jika kamu orang baru yang datang ke daerah ini, mungkin kamu tak akan bisa tidur akibat suara itu. Namun, hal tersebutlah yang justru membuat kota ini terkenal, bahkan dijuluki sebagai Kota Sutera.

Dulu, wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara sering datang ke kampung-kampung sutera di Sengkang untuk melihat proses pembuatan kain tenun secara tradisional. Meski saat ini lebih sepi, tapi produksi dan usaha kain tenun tersebut tetap diturunkan dari generasi ke generasi, termasuk menggunakan alat yang lebih modern. Tak terkecuali dengan motif dalam kain yang terus berkembang.

Ariyanti salah satunya. Ia yang anak kedua dari 7 bersaudara ini mengatakan seluruh keluarganya sudah diajarkan bagaimana menenun dan menjual kain Sengkang. Saat ini ia mengatakan punya lebih dari sepuluh alat tenun bukan mesin (ATBM) untuk membuat kain tenun. Dua di antaranya berada di bawah rumah panggungnya.

"Ndak cukup (kalau ditaruh semua) di sini, ada juga di luar. Dikerjakan orang lain, di rumahnya untuk ditenun, selesai baru diberikan. Jadi saya produksi dan jual. Jual di Sengkang, ada juga bawa keluar," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Pembuatan kain tenunSengkang dikenal sebagai Kota Sutera. Foto: Nurcholis Maarif/detikcom

Ia menjelaskan saat ini kain tenun yang dibuat di Sengkang lebih banyak menggunakan benang campuran. Sebab jika ingin kain sutera yang asli dibutuhkan waktu satu bulan dengan alat yang lebih manual dan menggunakan tangan untuk membuatnya. Tak terkecuali harga yang tinggi hingga Rp1 juta dan sedikit peminatnya.

Lalu jika dulu kain tenun Sengkang hanya digunakan untuk sarung, kini juga digunakan sebagai bahan baju yang digunakan di acara-acara besar seperti pernikahan atau baju kantor. Dijelaskannya, dari satu penenun bisa membuat satu sarung dalam dua hari. Kadang juga dibuat gulungan kain sepanjang 20-30 meter.

"Kain di bawah campuran, karena sekarang lebih banyak dicampur. Sutera asli kalau ada yang pesan aja. Karena lain lagi kalau sutera asli, lebih manual lagi. Alat yang di bawah modern 50 persen," ujarnya.

Pembuatan kain tenunBeberapa contoh motif dalam kain tenun hasil penenun Sengkang. Foto: Nurcholis Maarif/detikcom

Ariyanti mengatakan kain tenun yang dijualnya dibanderol dengan harga Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Harga ini bisa lebih tinggi dua kali lipat jika kamu membelinya di Makassar. Seminggu sekali ia menjualnya langsung atau lewat distributor dan bisa meraup Rp3 juta hingga Rp4 juta. Dari usahanya tersebut keluarga Ariyanti sudah umrah semua.

Lebih lanjut ia menjelaskan dulu untuk menambah modal ia memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BANK BRI. Sampai saat ini bahkan ia sudah tiga kali mendapat KUR dan semuanya ia gunakan untuk mengembangkan usahanya menjual kain tenun Sengkang.

"Ngambil KUR sudah 3 kali, Rp20 juta, Rp25 juta, dan sekarang Rp30 juta. Buat beli alat, sebagian untuk (modal) jualan adikku dibawa keluar (Sengkang). Yang penting lancar bisnis, (karena) sekeluarga bisnis ini semua," ujarnya.

Sebagai informasi, kini BANK BRI kini membekali setiap Mantrinya dengan aplikasi BRISPOT Mikro sebagai solusi digitalisasi layanan finansial terintegrasi. Lewat fitur-fiturnya, BANK BRI ingin membantu pedagang dan UMKM seperti Ariyanti dengan adanya proses cash pickup transaction, pinjaman, hingga adanya monitoring dari Mantri cukup melalui aplikasi.

Para Mantri berperan penting dalam pendayagunaan BRISPOT Mikro untuk pemasaran, pemrosesan permodalan, simpanan hingga monitoring portfolio. Lalu ikut mendampingi dan membina bisnis sebagai financial advisor di daerahnya serta pemberdayaan sektor UMKM.

(prf/ega)