Panitia Haji Indonesia Dirikan 30 Pos Arafah-Mina
Senin, 19 Des 2005 17:59 WIB
Madinah - Penanganan jamaah haji Indonesia saat wukuf di Arafah hingga mabit di Muzdalifah dan Mina akan menjadi hal krusial. Karena itu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia akan membangun 30 pos antara Arafah-Mina. Di setiap pos ini akan disiagakan petugas haji Indonesia. Di setiap pos ini didirikan tenda dan dipasang bendera Merah Putih. "Nanti kami juga upayakan ada tempat istirahatnya," kata Koordinator Pengamanan PPIH, Sukirman Azmi di Kantor PPIH Daerah Kerja (Daker) Madinah, Jl. Mathar, Madinah, Senin (19/12/2005) seperti dilaporkan reporter detikcom di Madinahl, Arifin Asydhad. Rancangan-rancangan tentang penanganan ibadah di Mina akan akan terus dimatangkan. "Kami nanti akan mengumpulkan semua Daker di Jeddah untuk membahas hal ini pada hari Selasa besok," ungkap Sukirman, yang nantinya akan mengkoordinasi penyelenggaraan haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina ini. Rancangan yang sedang digodok, tiga Daker PPIH, yaitu Daker Jeddah, Daker Makkah, dan Daker Madinah akan dibagi daerah kerja. "Makkah akan menangani Arafah, Jeddah menangani Muzdalifah, dan Madinah menangani Mina. Yang paling berat nanti saat di Mina," ungkap Sukirman. Daker Madinah diberi tugas menangani Mina karena penanganan jamaah haji di Madinah belum terlalu berat. "Jadi, seperti tahun lalu, nanti Daker Madinah yang akan menangani Mina," ungkap dia. 30 Pos di antara Arafah - Mina dibuat sesuai dengan jumlah Sub Daker di tiga Daker PPIH. Sub Daker di Makkah berjumlah 19, di Madinah 7 Sub Daker, dan sisanya Sub Daker Jeddah. Selama ini, saat melempar jumrah di Mina yang paling berpeluang mendatangkan korban. Beberapa kasus yang menimbulkan banyak korban telah terjadi di tempat ini. Sebab, para jamaah haji dari berbagai negara berkumpul di tempat itu untuk melempar jumrah. Di Mina juga sangat banyak jamaah haji yang tersesat.
(nrl/)











































