Pandemi Corona, KLHK Pastikan Satwa di Lembaga Konservasi Baik & Sehat

Abu Ubaidillah - detikNews
Minggu, 17 Mei 2020 13:39 WIB
KLHK
Foto: dok KLHK
Jakarta -

Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno meninjau Gembira Loka Zoo (GL Zoo) untuk memastikan keberadaan fisik satwa dikelola sesuai kaidah kesejahteraan satwa.

Selain itu, kegiatan yang dilakukan Wiratno adalah mengkoordinasikan Lembaga Konservasi (LK) di bawah Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) yang terdampak COVID-19 dan perlu mendapat bantuan.

Wiratno didampingi Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta, Muhammad Wahyudi dan disambut oleh Direktur GL Zoo, KMT A. Tirtodiprojo.

Dalam kunjungannya, Wiratno mengawali dengan melihat proses pembangunan sarana dan prasarana di GL Zoo, terutama pembangunan Zona Cakar 2 yang sudah dilakukan sejak sebelum pandemi COVID-19.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya dalam rangka menyambut libur lebaran, GL Zoo selalu mempersiapkan zona baru yang dapat difungsikan sebagai zona edukasi satwa di GL Zoo.

Selain itu, Wiratno juga melihat kondisi Arinta, bayi gajah atau bledug yang berusia 7 minggu. Arinta adalah anak gajah dari induk Argo dan Shinta. Dalam filosofi Jawa, Arinta berarti menjadi lebih percaya diri, semangat, dan menjadi pribadi yang positif serta bermanfaat untuk orang lain. Diharapkan, Arinta bisa menjadi gajah yang bisa berkembang biak dan melestarikan jenisnya.

Wiratno juga mengunjungi salah satu bangunan baru di GL Zoo yang merupakan gudang pakan dan nutrisi terpadu untuk satwa dengan kondisi stok pangan yang memadai. Joko menyampaikan bahwa dalam kondisi GL Zoo yang ditutup dari aktivitas pengunjung, prediksi ketersediaan pakan satwa tetap terpenuhi untuk seluruh 1.000 ekor satwa di GL Zoo hingga Agustus 2020.

Ia memuji GL Zoo yang merupakan landmark Yogyakarta yang juga merupakan warisan yang penting. Wiratno kagum terhadap manajemen yang bisa memanfaatkan peluang 100 hari libur dalam setahun untuk membiayai operasional selama setahun.

"Jika dihitung dalam setahun, terdapat 100 hari libur, GL Zoo mendapatkan kunjungan wisatawan mencapai 20.000 orang per hari, dan memanfaatkannya untuk operasional selama setahun, itu bagus," terangnya.

Wiratno menambahkan, kondisi LK umum yang pemasukannya berasal dari pengunjung menyebabkan tidak ada pemasukan selama masa pandemi, serta tidak semua LK mampu membiayai operasional dan pakan satwanya.

"Kondisi seperti ini yang banyak dihadapi oleh LK di Indonesia saat ini, perlu kerja keras bersama semua pihak termasuk PKBSI untuk turut serta membantu LK," ungkapnya.

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi LK, PKBSI telah menghimpun dana dari donatur-donatur untuk disalurkan kepada LK yang mengalami kesulitan dalam pembiayaan, terutama obat-obatan dan pakan satwa. Total ada 81 LK di Indonesia dan 2 di Yogyakarta yakni GL Zoo dan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY).

Dalam akhir kunjungannya, Wiratno menyebut bahwa penutupan LK berpengaruh pada operasional dan obat-obatan. Untuk itu, pemerintah melalui KLHK telah mengalokasikan pakan dan obat-obatan bagi LK yang membutuhkan bantuan.

"Karena status satwa di LK umumnya satwa dilindungi, sehingga pemerintah bertanggung jawab memastikan kondisi satwa tersebut dalam keadaan baik dan sehat," sambung Wiratno.

Sementara itu, KMT A. Tirtodiprojo atau yang akrab disapa Joko menyebut bahwa kandang harimau dan singa yang dibangun di Zona Cakar 2 merupakan satu-satunya kandang berstandar internasional di Indonesia. Pembangunannya dilakukan dengan menggandeng konsultan desain sekaligus mantan Direktur Utama Singapore Zoo, Bernard Harrison.

Konstruksi Zona Cakar terdapat 2 bagian kandang tidur (den) singa dan harimau dengan rincian 8 kandang tirus atau asuh anak dan 2 kandang ubaran.

"Di Zona Cakar ini secara bertahap akan ditampilkan koleksi satwa bercakar seperti macan dahan, beruang madu, kucing bakau, singa, harimau sumatera, hyena dan jaguar," jelas Joko dalam keterangan tertulis, Minggu (17/5/2020).

Joko juga menyampaikan bahwa di bulan Agustus 2020, GL Zoo masih belum dibuka untuk umum dan kebutuhan pakan akan diupayakan melalui alokasi anggaran perusahaan. Selain itu, dana operasional di GL Zoo juga menggunakan dana cadangan perusahaan. GL Zoo tidak membuka donasi pakan satwa namun mempersilahkan masyarakat atau mitra yang ingin memberi pakan bagi satwa.

"Untuk operasional GL Zoo pengeluaran selama 1 bulan mencapai Rp 1,5 miliar, dimana Rp 400 juta di antaranya khusus untuk pakan satwa," jelas Joko.

(ega/ega)