Soal Bansos, Pemerintah Diminta Optimalkan Kebutuhan untuk Kelompok Difabel

Wilda Nufus - detikNews
Minggu, 17 Mei 2020 12:47 WIB
Poster
Ilustrasi Virus Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Yayasan Plan International Indonesia (YPII) mengatakan penyandang disabilitas yang terkena dampak Corona (COVID-19) belum tersentuh bantuan sosial dari pemerintah, sehingga pemerintah diharapkan mengoptimalkan bantuan dan memikirkan nasib kelompok difabel.

"Pemerintah, menurut data dari teman-teman kami di lapangan, belum sampai (bantuan sosial). Oleh karena itu, kami memfasilitasi, mendampingi kelompok difabel ini untuk bicara langsung dengan pemerintah, sehingga harapannya respons COVID ini juga memikirkan kebutuhan mereka, mendengarkan suara mereka karena ini belum bahkan informasi saja tidak sampai," kata Executive Director Yayasan Plan International Indonesia Dini Widiastuti melalui siaran langsung dari kanal YouTube BNPB, Minggu (17/5/2020).

Dini mengatakan pihaknya juga sering kali menemukan pemahaman yang salah mengenai protokol kesehatan COVID-19 yang kemudian sampai ke penyandang disabilitas di desa-desa. Hal inilah yang membuatnya harus meluruskan informasi terkait upaya-upaya pencegahan Corona.

"Jadi kalau yang di desa-desa di dusun kami itu kerja di 200 desa untuk respons COVID ini. Sejauh ini sudah ada 328 ribu penerima manfaatnya termasuk juga orang dengan disabilitas. Nah, mereka itu bahkan salah informasi, jadi kalau cuci tangan itu harus ada cuman pakai hand sanitizer kalau pakai sabun tidak bisa, COVID-nya tidak bisa hilang seperti itu. Jadi akses terhadap informasi sangat minim jadi itu dulu yang pertama-tama kami luruskan, kami berikan informasi lewat stiker, poster, dan juga animasi di dalam bahasa daerah," kata Dini.

Senada dengan Dini, Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Jawa Timur Pinky Saptandari juga menyebut penyandang disabilitas sering kali luput dari bantuan sosial. Padahal, kata Dini, yang paling ter dampak dan harus menjadi prioritas adalah penyandang disabilitas.

"Ternyata memang, ketika kita bicara tentang dampak pandemi COVID ini, sering kali orang melupakan bahwa ada yang paling terdampak dari kita. Kan kita-kita semua susah betul, pengusaha susah, karyawan susah, tetapi ada yang lebih susah daripada kita yaitu teman-teman disabilitas yang memberi contoh saja, misalnya tunanetra yang pekerjaannya hanya memijat, karena 2 bulan ini mereka tidak lagi memijat. Ini contoh kalau kita bicara semua terkena dampaknya barangkali yang harus kita pikirkan mereka yang paling terdampak," kata Pinky.

Pinky menyebut pihaknya saat ini tengah menggencarkan para komunitas untuk memberikan bantuan kepada disabilitas yang terdampak. Dia mengatakan akan menggunakan data yang dimilikinya ketimbang data bantuan sosial dari pemerintah yang dinilainya terkadang salah sasaran.

"Kami sudah mulai gerak sejak Maret, Maret sebelum kan hebohnya April sampai Mei ini gitu ya, tapi Maret itu kita sudah bergerak dengan bantuan-bantuan mulai dari masker, vitamin, atau susu pembagian sembako itu ya, tentu jangkauannya tidak bisa seluruhnya tapi alhamdulillah berjalannya waktu banyak pihak yang menitipkan. Sekarang alhamdulillah sudah 2.500 paket yang kita bagikan yang sebagian besar adalah untuk teman-teman disabilitas," katanya.

"Kalau data kita, mengacu pada jaringan data kita sendiri, karena kalau menggunakan data bansos itu kan sering banyak kisruh data. Kita saling melengkapi dan kita memang menghindari yang sudah dapat bansos itu supaya ada pemerataan jangan sampai double," imbuhnya.

(idn/idn)