Jokowi: Kita Harus Hidup Berdampingan dengan Corona, tapi Tidak Menyerah

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 15 Mei 2020 22:10 WIB
Presiden Joko Widodo melantik Ketua MA Muhammad Syarifuddin dan Hakim MK Manahan Sitompul di Istana Negara Jakarta. Jokowi tampak memakai masker.
Presiden Jokowi (Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan masyarakat Indonesia harus hidup berdampingan dengan virus Corona (COVID-19). Sebab, kata Jokowi, menurut informasi dari organisasi kesehatan dunia (WHO), virus Corona tidak akan hilang.

"Kita memang harus berkompromi dengan COVID, bisa hidup berdampingan dengan COVID. Yang kemarin saya bilang, kita harus berdamai dengan COVID. Karena informasi terakhir dari WHO, yang saya terima, bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai, atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang. Artinya, sekali lagi, kita harus berdampingan hidup dengan COVID," kata Jokowi dalam video yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (15/5/2020).

Namun, Jokowi menegaskan, hidup berdampingan bukan berarti menyerah pada keadaan. Dia menjelaskan, yang dimaksud hidup berdampingan adalah menyesuaikan diri dengan keberadaan virus Corona.

"Berdampingan itu justru kita tidak menyerah, tapi menyesuaikan diri. Kita lawan keberadaan virus COVID tersebut dengan mengedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan yang ketat, yang harus kita laksanakan," ujarnya.

Jokowi mengatakan, selama belum ada vaksin virus Corona, maka masyarakat harus menyesuaikan diri dengan tatanan kehidupan yang baru. Jaga jarak dan melakukan protokol pencegahan COVID-19 harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru," kata Jokowi.

"Tapi kehidupan yang berbeda itu bukan kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan. Kita kembali, kita kembalikan produktivitas kita dengan optimisme karena kita juga tetap menerapkan berbagai mekanisme pencegahan. Ini penyakit berbahaya tapi kita bisa mencegah dan menghindarinya," sambungnya.

(mae/azr)