Tahu dan Tempe Sorry Ya....

Melongok Katering Jamaah Haji (3)

Tahu dan Tempe Sorry Ya....

- detikNews
Senin, 19 Des 2005 10:17 WIB
Tahu dan Tempe Sorry Ya....
Jakarta - Makanan Indonesia tanpa tahu dan tempe kadang-kadang kurang berasa. Karena itulah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menetapkan salah satu menu katering bagi jamaah haji adalah tahu dan tempe. Tapi, hingga hari kesepuluh jamaah haji Indonesia datang ke Madinah, tidak pernah satu pun katering yang bermenu tahu dan tempe. Mengapa? Penelusuran reporter detikcom Arifin Asydhad, dari 9 perusahaan katering yang dikontrak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), tidak pernah menyajikan tahu dan tempe. Padahal, dalam MoU yang diteken Kepala PPIH yang juga merangkap Konsul Haji pada Staf Teknis Urusan Haji, Nur Samad Kamba, 16 November 2005 lalu, ada salah satu menu dengan bahan baku tahu dan tempe. Nah, masalah ini tentu menggelitik Tim Sanitasi dan Surveilans (Sansur) Daker Madinah dalam inspeksi mendadak (sidak), Sabtu (17/12/2005) lalu. Ahli gizi dalam Tim Sansur, Iswanelli mempertanyakan kepada Al Ahmadi Catering tentang tidak pernahnya disajikan tahu dan tempe. Padahal, dua makanan yang terbuat dari kedelai itu sangat tinggi nilai nutrisinya. Namun, jawaban Amir, penanggung jawab Al Ahmadi Catering, cukup mengejutkan. "Kami tidak bisa Bu, karena Baladiyah melarang tahu dan tempe," kata Amir. Baladiyah adalah semacam Pemerintah Daerah di Madinah.Karena itu, Al Ahmadi Catering tidak berani membuat menu tempe dan tahu. Apalagi stok tahu dan tempe memang tidak ada di Madinah. "Di sini aturannya ketat. Kami harus patuh dengan aturan itu," ungkap Amir, warga negara Indonesia yang telah 14 tahun bekerja di Arab Saudi ini. Saat ditanya mengapa tahu dan tempe dilarang, menurut Amir, alasan pihak baladiyah, karena dua makanan itu berbau. "Kalau tempe mungkin tidak terlalu berbau, tapi, kalau tahu itu kan memang baunya tidak enak, dan tidak tahan lama," ungkap Amir. Dengan larangan ini, Amir meminta PPIH Indonesia seharusnya mengubah ketentuan menu yang telah ditetapkan. "Jadi, Indonesia juga perlu melihat aturan-aturan yang ada di sini, agar sinkron," saran Amir. Dengan tidak adanya tahu dan tempe inilah, kata Amir, pihaknya mengubah dari jenis menu yang telah ditentukan. Selain soal tahu dan tempe, yang juga dipermasalahkan oleh Tim Sansur adalah tidak pernahnya menu sayur kuah. Sebab, bila sayur dibikin dalam bentuk oseng-oseng, tentu akan membuat jamaah haji bosan. Namun, ternyata untuk menyediakan sayur berkuah memang sulit. Menurut Koko Sahladi, pimpinan Al Hamra Catering, selain mudah basi, sayur kuah juga sulit untuk mengepaknya dan tidak praktis. Harus ada tempat sendiri. Sebab, bila disatukan dalam kotak nasi, bisa dengan mudah tumpah. Kasus Makanan Basi Hingga Senin (19/12/2005), baru ditemukan satu kali kasus makanan basi. Makanan yang basi ini diproduksi Al Hamra Catering. Koko Sahladi, penanggung jawab produksi Al Hamra Catering, mengakui hal ini. Namun, kata dia, makanan basi itu belum sampai ke tangan jamaah. "Kasus itu terjadi pukul 09.00. Begitu ditemukan makanan basi, semua makanan langsung ditarik," kata Koko. Saat itu, makanan yang ditarik cukup banyak, karena makanan sudah disiapkan untuk jamaah haji Indonesia sebanyak 8 kloter. Penyebab makanan basi itu ternyata berasal dari daging ayam yang saat itu dibuat opor. "Kami berpikir, opor ayam lebih enak. Tapi, ternyata makanan itu cepat basi. Jadi ini hanya kesalahan menu saja," aku dia. Pihaknya bertanggung jawab atas kejadian ini. Karena itu, perusahaan ini langsung mengganti makanan untuk jamaah 8 kloter itu dengan makanan baru. "Ya ini sudah risiko dalam usaha katering," kata Koko. Foto:Menu tanpa tahu tempe (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads