Buncis Lagi, Buncis Lagi

Melongok Katering Jamaah Haji (2)

Buncis Lagi, Buncis Lagi

- detikNews
Senin, 19 Des 2005 09:22 WIB
Buncis Lagi, Buncis Lagi
Jakarta - Setiap jamaah haji Indonesia di Madinah dijatah mendapatkan katering makanan dua kali sehari, makan siang dan makan malam. Setiap kali makan dihargai 7Riyal. Uang ini sudah termasuk dalam komponen Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Uang 7 Riyal bila dirupiahkan setara dengan sekitar Rp 19.600. Jumlah ini bila dipakai untuk membeli makanan di Indonesia tentu sudah mendapat makanan yang lumayan bergizi. Tapi, harga makanan masakan Indonesia di Arab Saudi agak mahal sedikit. Tapi, inilah harga yang dipatok oleh pemerintan dan DPR. Kontrak yang dibuat Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dengan perusahaan katering juga memuat tentang menu makanan setiap harinya. Dalam setiap kali makan, minimal ada nasi, sayur mayur, lauk pauk hewani, buah, dan 1 gelas air. Dalam waktu interval tiga hari, menu juga telah disusun secara berbeda. Berdasarkan MoU dengan 9 perusahaan katering, menu diatur sebagai berikut: Hari pertama: Siang --- nasi putih, daging goreng saus tomat, oseng-oseng kentang + ikan teri kecil, sayur kuah, 1 buah apel, dan 1 air mineral. Malam --- nasi putih, ayam goreng, oseng-oseng tempe+ikan teri kecil, sayur kuah, 1 buah pisang, 1 air mineral. Hari kedua:Siang --- nasi putih, ikan bumbu kecap, oseng-oseng tahu+ikan asing, sayur kuah, 1 buah jeruk, dan air mineral. Malam --- nasi putih, daging empal, tumis buncis, sayur kuah, 1 buah apel, 1 air mineralHari ketiga: Siang --- nasi goreng, dadar telor, abon, tempe goreng+teri kecil, lalap, 1 air mineral Malam --- nasi putih, ikan asin, sayur bening, sambal tahu, 1 buah pisang, 1 air mineral.Dalam MoU juga ada catatan menu yang harus dilakukan perusahaan katering: 1. nasi putih berat 250 gram (beras Thailand AAA 50%+50% beras 'Sunwhite' Australia)2. ayam goreng 1 potong: 1/8 seekor ayam mentah yang beratnya 1.000 gram3. daging 1 potong: 75 gram4. ikan: 125 gram5. 1 botol air mineral isi 0,5 literJauh dari KenyataanTapi, ternyata ketentuan menu itu berbeda jauh dari kenyataan. Menu makanan lebih sering dibuat perusahaan katering didasarkan pada stok bahan mentah yang dimilikinya. Yang paling banyak dikeluhkan adalah tentang sayur mayur. Sementara tentang lauk pauk hewani sudah bervariasi, meski tidak sesuai dengan ketentuan menu yang telah dikontrak. "Masa setiap hari buncis. Siang buncis, malam buncis, besoknya juga buncis, hari ini juga buncis," kata salah seorang jamaah haji asal Depok, Zulkarnaen, saat mengeluh kepada reporter detikcom di Madinah, Arifin Asydhad, Jumat (16/12/2005) lalu saat bertemu di penginapannya di Hotel Taibah, yang terletak di kawasan Masjid Nabawi. Zulkarnaen pantas mengeluh. Selain karena menu sayur kurang bervariasi, juga karena dia mengidap penyakit asam urat. Selama ini, dia memiliki pantangan banyak makanan, terutama makanan yang mengandung asam urat. Salah satunya buncis. Praktis, kata Zulkarnaen, setiap kali makan, dirinya selalu menyisakan sayur buncis itu. Masalah kurang bervariasinya sayur ini sempat ditanyakan oleh Tim Sanitasi dan Surveilans Daerah Kerja (Daker Madinah) saat melakukan inspeksi mendadak pada Sabtu (17/12/2005). Dan ternyata, jawaban dari pihak katering cukup masuk akal, mengapa sayur yang dihidangkan kepada jamaah haji kebanyakan buncis. Koko Sahladi, pimpinan Al Hamra Catering mengaku pihaknya hanya menyajikan sayur buncis karena stok sayur yang ada di Arab Saudi hanyalah buncis. "Bisa saja kita membuat sayur bervariasi, namun sayur-sayur itu harus diimpor dari Indonesia," kata dia. Namun, untuk urusan impor ini cukup sulit. Perlu waktu cukup panjang untuk persiapan melakukan impor. Yang menjadi masalah, Al Hamra baru mendapatkan kepastian kontrak ini setelah Idul Fitri lalu. Dengan demikian, waktunya sangat sempit untuk mempersiapkannya. "Kami akan bisa impor kalau kami memiliki kontrak itu. Peraturan di Arab Saudi mengharuskan seperti itu," ungkap dia. Meski hanya memiliki stok buncis, menurut Koko, Al Hamra juga sudah berupaya untuk memvariasikan sayur buncis dalam penyajian kateringnya. Misal, oseng buncis dicampur dengan ikan teri atau sayur buncis dicampur dengan kentang. Hal yang sama juga disampaikan Amir, penanggung jawab produk Al Ahmadi Catering. Menurut Amir, sayur mayur segar sangat sulit didapatkan di Arab Saudi. "Di sini kami hanya bisa membeli buncis," tutur Amir. Selain tidak ada variasi sayur, Tim Sansur Daker Madinah yang dipimpin Wakil Kepala Daker Bidang Pelayanan Kesehatan dr H Anasrul S Rahman juga mempertanyakan takaran masing-masing komponen makanan. Sebab, takaran dari masing-masing katering itu kadang-kadang kurang. Misal, nasi kurang dari 250 gram, ikan kurang dari 125 gram, dan daging kurang dari 75 gram. Perusahaan katering diingatkan untuk mematuhi aturan takaran yang termuat dalam MoU. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads