Distribusi Kacau, Jamaah Protes

Melongok Katering Jamaah Haji (1)

Distribusi Kacau, Jamaah Protes

- detikNews
Senin, 19 Des 2005 09:04 WIB
Distribusi Kacau, Jamaah Protes
Jakarta - Di suatu pagi, Jumat (16/12/2005), sejumlah jamaah haji pria tampak tergopoh- gopoh mendatangi Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah di Jl. Airport, Madinah.Mimik wajah mereka memperlihatkan bahwa mereka sedang marah. Setelah diterima resepsionis, mereka pun menuju lantai dua. Di lantai dua ini, mereka menghadap seorang Wakil Kepala Daker. Tanpa tedeng aling-aling, mereka yang dipimpin ketua kloternya, memprotes tentang katering. Mereka komplain karena katering untuk makan malam baru tiba pukul 22.00. "Kami sudah kelaparan. Daripada kami mati kelaparan, mending kami mati berdarah," kata ketua kloter sedikit mengancam. Menurut ketua kloter, rombongannya sudah menunggu katering hingga jam 20.00. Namun, katering belum datang juga. Karena sudah kelaparan, mereka pun akhirnya terpaksa membeli makan dengan kocek pribadi mereka sendiri. Dan setelah mereka makan, katering kemudian datang pada pukul 22.00. Dan makanan itu tidak dimakan oleh mereka, karena saat itu sudah waktunya istirahat. Karena itu, mereka memprotes dan meminta uang pengganti membeli makan malam yang telah mereka keluarkan. Mereka meminta kompensasi karena mereka merasa dirugikan. Sebab, biaya katering selama 8 hari di Madinah sudah dimasukkan dalam komponen Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Dalam aturan yang telah ditetapkan pemerintah dan disetujui DPR, setiap jamaah haji akan mendapatkan jatah makan dua kali dalam satu hari, makan siang dan makan malam. Satu kali makan dihargai 7 Riyal (sekitar Rp 19.600.). Karena itulah, mereka meminta jatah uang 7 Riyal, karena makan malam yang disediakan oleh penyelenggara haji tidak mereka makan. Sempat terjadi debat panjang. Tapi, akhirnya pihak Daker mengalah. Mereka pun diberi kompensasi masing-masing orang 7 Riyal. Masalah pun selesai danmereka meninggalkan kantor Daker dengan wajah yang agak ramah. Itulah salah satu kondisi dan karakter jamaah haji Indonesia. Meski datang ke Tanah Suci dengan niat ibadah, tapi urusan yang berkaitan dengan isi perut tetap menjadi prioritas. Karena itulah, bila masalah katering ini tidak diperbaiki oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH), maka protes akan terus terjadi dari jamaah haji. Memang, distribusi katering selama dua hari terakhir sebelum datangnya para pemrotes itu, sedang kacau. Jamaah haji asal Indonesia yang berdatangan ke Madinah semakin banyak dan mendekati puncaknya. Saat itu setidaknya sudah sekitar 50.000 jamaah haji Indonesia yang berada di Madinah. Puncak jumlah haji di Madinah akan terjadi di saat jamaah haji berjumlah 89.000. Semakin banyaknya jamaah haji Indonesia ini tampaknya membuat kewalahan para perusahaan katering yang telah menjalin MoU dengan PPIH. Total, ada 9 perusahaan katering. Mereka adalah Al Hamra Catering, Al Anshar Al Iqlimiyah Catering, Al Fathani (Said Bawazir) Catering, Al Ahmadi Catering, Muhsin Al Amoudi Catering, Al Mahmal Al Moudi Catering, The Golden Fork, Mahmud Catering, dan Du'a Catering. Dalam dua hari itu, distribusi katering memang semakin bermasalah. Ada kloter jamaah haji yang mendapatkan jatah makan malam pukul 01.00 dinihari. Keterlambatan distribusi ini sebagian besar dialami jamaah haji yang mendapatkan pemondokan yang agak jauh dari Masjid Nabawi. Para jamaah haji yang menginap di hotel-hotel atau pemondokan di kawasan Markaziah relatif mendapatkan jatah makan tepat waktu. Kepala Daker Madinah H. Ahmad Kartono membenarkan kejadian ini. Kekacauan distribusi ini lebih disebabkan tidak siapnya perusahaan katering. "Ada perusahaan katering yang mendapatkan kontrak yang besar, tapi ternyata kewalahan. Mereka tidak mampu," kata Kartono. Gara-gara satu perusahaan ini tidak mampu memenuhi kontrak, akhirnya yang ketiban pulung adalah perusahaan katering yang berkapasitas kecil. Sebab, sebagian order katering dari perusahaan yang kewalahan itu dilimpahkan kepada perusahaan katering lainnya di antara 9 perusahaan katering yang menjalin kontrak dengan PPIH. "Ini akhirnya menimbulkan kekacauan distribusi, karena irama kerja perusahaan yang kelimpahan order tambahan itu akhirnya malah terganggu," kata Kartono. Atas kekacauan ini, Daker Madinah kemudian mengawasi distribusi katering secara ketat. Sejumlah petugas haji dan pengawas katering mengawasi selama 1 x 24 jam. "Dan saat ini, distribusi semakin baik," kata Kartono, Sabtu (18/12/2005) lalu. Kartono tidak mengetahui bagaimana tender yang dilakukan PPIH dalam masalah katering makanan ini. "Yang melakukan tender adalah PPIH di Jeddah. Saya hanya pelaksana teknis ini," kata pria yang menjabat salah satu Kepala Bidang di Kantor Departemen Agama ini. Pemondokan BerjauhanSalah satu perusahaan yang kewalahan dalam memenuhi order itu adalah PT Al Hamra. Perusahaan ini mendapatkan order katering sebanyak 60 ribu. Namun,dia mendapat limpahan tambahan order 50 ribu dari Bawazier Catering, karena ternyata Bawazier Catering belum siap beroperasi. Koordinator Distribusi Al Hamra Catering, Marsudin, saat ditemui reporter detikcom di Madinah, Arifin Asydhad, Sabtu (17/12/2005), membenarkan sulitnya distribusi. Kesulitan distribusi ini terjadi karena pemondokan jamaah satu kloter bisa menginap di pemondokan berbeda yang jaraknya berjauhan. Jamaah 1 kloter bisa sampai terbagi dalam empat pemondokan. "Kalau pemondokannya sama-sama di Markaziah sih tidak ada masalah. Tapi, ini jaraknya berjauhan," kata dia. Kasus pemondokan yang berjauhan bukan kesalahan Daker Madinah. Sebab, pemondokan ini sudah diatur sedemikian oleh Majmuah (perkumpulan pengusaha hotel/penginapan) yang telah ditunjuk Kementerian Haji Arab Saudi. Namun, menurut Marsudin, saat ini pihaknya sudah bisa mengatasi masalah distribusi ini. "Hari ini, insya Allah distribusi tidak ada masalah lagi," kata Marsudin. Distribusi katering yang harus dilakukan perusahaan katering memang cukup rumit. Sejumlah syarat membekapnya. Antara lain, makanan harus dikirimkandengan dimasukkan ke dalam heater. Ini untuk menjaga agar makanan tetap hangat dan tidak cepat basi. Bila mendistribusikan makanan tanpa heater dan tepergokpolisi di jalan, bisa-bisa polisi akan meminta agar makanan itu dibuang saja. Perusahaan katering juga harus memiliki atau menyewa banyak truk, tergantung banyaknya order katering yang dimiliki. Bila order makanan banyak, tapi truk yang dimiliki cuma sedikit, akan menghambat waktu distribusi. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads