Demi Mimpi Anak, Nelayan Anambas Labuhkan Asa di Laut China Selatan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 13 Mei 2020 10:35 WIB
Nelayan di Anambas
Foto: Okta Marfianto/20detik
Anambas -

Setiap orang tua pasti tidak akan sungkan melakukan segalanya demi kebahagiaan anak-anaknya di masa depan, seperti yang dilakukan Maspani. Perjuangan seorang ayah tiga anak dari Desa Bayat Kepulauan Anambas ini patut menjadi contoh.

Maspani merupakan salah satu nelayan lokal di Pulau Bayat. Dia bergantung pada hasil laut untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Tentunya penghasilannya tersebut tak menentu karena harus bergantung pada kondisi alam perairan Anambas yang cukup ekstrem.

"Penghasilan kita itu nggak tentu bang, tergantung tangkap ikannya. Kita kan tidak bisa menafsirkan terkadang dapat ikan belasan ekor ikan bantal, itu sekian harganya," kata Maspani kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dalam mencari ikan tersebut, ia masih mengandalkan cara tradisional yakni dengan pancing ulur bermata pancing satu, terkadang ia kesulitan untuk mencari karang tempat ikan berkumpul karena keterbatasan radar di perahunya tersebut.

"Ini ada musimnya, sekarang musim ikan karang angin teduh, jadi pakai ini tak pakai jaring biar nggak merusak (terumbu) karang," ungkapnya.

Maspani tidak sendiri, ia mengajak dua orang tetangga dekat rumahnya untuk melabuhkan asa. Dengan menggunakan perahu berukuran 5 GT, ia bisa menetap hingga 4-7 hari di perairan Moring dekat Laut China Selatan dalam menggantungkan harapan ekonominya.

"Itu belasan mil dari Pulau Bayat, hampir mau masuk ke Laut China Selatan. Kadang di sana ketemu kapal asing juga, kapal Thailand itu suka curi ikan-ikan kita pakai pukat mayang," ungkap dia.

Nelayan di AnambasNelayan di Anambas Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Meski tidak berpengaruh secara langsung terhadap hasil tangkapnya di hari itu, namun kapal asing tersebut kadang meresahkan. Aktivitas kapalnya di lautan bisa jadi terbatas. Dalam 4 hari melabuhkan asa di Laut China Selatan hasil tangkap yang didapat Maspani bisa sekitar puluhan ekor ikan besar yang terdiri dari ikan bantal, tongkol, hingga kakap merah.

"Kalau harganya naik, ikan karang atau bantal itu bisa sampai Rp80-90 ribu, tapi normalnya Rp75 ribu per kilo. Kalau dihitung tangkap semua itu saya per 4 hari bisa dapat penghasilan Rp2,6 juta, cukup untuk keluarga dan anak," jelasnya.

Kini Maspani pun menambah berbagai fasilitas pompong atau perahunya untuk mendukung hasil tangkap. Modalnya ia pinjam dari BANK BRI sebesar Rp30 juta lewat bank terapung yang dikenal Teras BRI Kapal. Itu digunakan untuk membeli alat tangkap sejenis pemantau karang untuk memudahkannya mencari ikan.

"Saya orang pertama yang dapat KUR BRI di Kapal ini. Pinjem itu Rp30 juta, Rp15 juta digunakan untuk membeli alat tangkap (radar pemantau karang) sama beli rawai (pancing ulur bermata pancing banyak)," bebernya.

"Alhamdulillah sejak saya dapat bantuan dari BANK BRI, penghasilan bisa meningkat sebulan kadang bisa sampai Rp11-12 juta dan bisa tabung juga untuk mimpi anak ke depannya nanti," imbuh Maspani.

Meski saat ini tiga anaknya masih berusia dini, sebagai orang tua ia bertanggung jawab untuk menjamin dan memastikan kebutuhan anaknya di masa depan kelak dapat terpenuhi dengan baik.

"Sisa hasil tangkap ikan itu biasanya, saya tabung untuk keluarga dan mimpi-mimpi anak nanti. Apalagi sekarang kan sudah mudah ada Teras BRI Kapal jadi nggak perlu bolak-balik lagi ke Tarempa," tandasnya.

Sebagai informasi, Teras BRI Kapal melayani perbankan di sekitar Kabupaten Kepulauan Anambas. Bank terapung ini beroperasi selama 5 hari setiap Senin hingga Jumat untuk menjangkau akses perbankan termasuk KUR di pulau terdepan di Kepulauan Anambas. Adapun rutenya yaitu Lingai, Bayat, Telaga Kecil, Keramut, serta Tarempa.

(prf/ega)