Mari Menanam! Ini Alasan Kenapa Petani Kota Dibutuhkan Saat Ini

Alfi - detikNews
Selasa, 12 Mei 2020 14:28 WIB
Petani kangkung yang berada dipinggiran kota Jakarta memanen hasil tanamannya di kawasan Jakarta Timur, Selasa (14/5/2013). Panen kangkung itu nantinya akan dipasarkan ke Pasar Pulogadung Jakarta Timur dengan harga kisaran Rp 4000 per-ikat. File/detikFoto.
Foto: Rachman haryanto-Petani Kota Panen Kangkung
Jakarta -
Organisasi Pangan Dunia (Food Agriculture Organization/FAO) memprediksikan virus Corona (COVID-19) bisa berdampak pada krisis pangan dunia. Prediksi ini dikhawatirkan bisa berdampak juga ke Indonesia.

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan peringatan ancaman krisis pangan tersebut kepada jajarannya. Jokowi ingin Indonesia memperhatikan betul stok pangan yang ada, agar tidak terdampak krisis pangan imbas COVID-19 ini.

"Seperti pada rapat yang lalu sudah saya sampaikan bahwa FAO memperingatkan bahwa pandemi COVID-19 ini dapat menyebabkan krisis pangan dunia. Ini hati-hati," kata Jokowi dalam siaran Sekretariat Presiden beberapa waktu lalu.
Menilik hal ini, berbagai pihak menyarankan untuk menanam kembali agar dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Mengutip The Ecology Center, menjadi petani kota atau petani urban bisa menjadi salah satu cara untuk berkontribusi meningkatkan produktivitas pangan ini. Berikut ini alasan dan manfaatnya.

Pertanian Membangun Komunitas

Pertanian kota menciptakan lebih dari sekadar makanan sehat dan lezat. Pertanian perkotaan menyatukan orang dengan kepentingan bersama yakni kebutuhan untuk makanan. Kesehatan masyarakat secara keseluruhan diuntungkan dengan meningkatkan kapasitasnya untuk menciptakan lingkungan yang benar-benar menopang penghuninya.

Menciptakan Lapangan Kerja

Pertanian perkotaan menciptakan peluang kerja (dan sukarela) di kota-kota besar, di mana kemiskinan dan kelaparan sering menjadi masalah yang terus-menerus. Peningkatan bisnis kecil merangsang ekonomi lokal dan mendukung masyarakat dengan menciptakan lapangan kerja tepat di tempat orang tinggal.
Pertumbuhan Ekonomi

Pertanian perkotaan juga merangsang ekonomi lokal dengan mengedarkan pendapatan di seluruh wilayah. Tanpa jaringan distribusi yang rumit, petani lebih terhubung ke pasar mereka dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap permintaan, sehingga memaksimalkan keuntungan.

Nah, salah satu orang yang sukses jadi petani kota ialah Bagas Suratman. Ia merupakan seorang petani di Kota Tangerang yang saat ini mendapatkan julukan sebagai Petani Kota karena kerja keras membangun lingkungan produktif.

Bagas mulai bertani dengan bermodal awal dari lahan seluas 3.000 meter persegi. Hingga saat ini ia mempunyai 12 hektare lahan. Ia mempunyai lahan cabai seluas 6.000 meter persegi dengan hasil panen yang melimpah. Bahkan sekali petik bisa sampai 1 ton.
Selain memiliki lahan pertanian yang luas dengan hasil panen melimpah, Bagas juga mempekerjakan pria-pria bertato eks preman untuk jadi petani.

Penasaran dengan kisah dari Bagas sang Petani Kota ini? Cerita lengkap Bagas bisa Anda tonton dalam acara Blusukan Butet Kartaredjasa: Petani Kota di Mola TV.

Semua itu bisa dilihat melalui paket Corona Care Mola TV. Dalam program ini, Mola TV mengajak masyarakat untuk turut peduli melalui Corona Care, sebuah program yang bertujuan untuk membantu pemerintah melawan wabah virus COVID-19 di Indonesia.

Program ini dapat disaksikan juga dengan memberikan sumbangan yang beragam mulai dari Rp 0 (melalui donasi doa) hingga Rp 5 juta. Nantinya untuk setiap sumbangan yang diterima, akan digandakan oleh Mola TV lalu disalurkan kepada BNPB dan PMI untuk membantu perjuangan melawan Corona.

(ega/ega)