Potret Setahun Keluarga Korban Tsunami Aceh

Potret Setahun Keluarga Korban Tsunami Aceh

- detikNews
Minggu, 18 Des 2005 07:31 WIB
Aceh - Bulan Desember ini, peristiwa tsunami yang menerjang Aceh akan berusia setahun. Bagi Usman (38) dan keluarganya, hal itu berarti rumah yang kini mereka tempati akan berakhir masa sewanya sebulan lagi. Jika sampai bulan depan Usman tak punya uang untuk membayar sewa rumah, maka tak ada pilihan bagi keluarga ini selain balik ke tenda pengungsian. Duh! Rumah yang kini ditempatinya berlokasi di Jalan Beringin Jaya Desa Seunebok Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh. Rumah itu disewanya bersama tiga keluarga lainnya sebesar Rp 2,5 juta setahun. Sebelum tsunami menerjang Aceh, Usman bersama isteri dan empat anak perempuannya tinggal di Jalan Blang Pulo Lorong Kangkong Desa Panggong di kecamatan yang sama. Di rumah ini pula, Usman membuka usaha bengkel sepeda motor. Tapi gelombang tsunami telah meluluhlantahkan rumah dan tempat usahanya. Dua anak perempuannya, juga hilang bersama surutnya air laut. Sampai kini, jenazahnya tak ditemukan. Satu bulan pasca tsunami, Usman sempat mengecap kehidupan di tenda pengungsian. Tapi kemudian, bersama tiga keluarga lainnya yang terdiri dari ibu dan ayahnya, adik perempuan dan suaminya serta sepupu jauhnya yang kehilangan isteri dan kini hanya tinggal bertiga dengan anak laki-lakinya, memutuskan untuk menyewa rumah bersama. Mereka semua kehilangan tempat tinggal akibat tsunami."Saya tak dapat bantuan rumah karena rumah yang dulu saya tempati itu rumah sewa. Sedangkan yang dapat bantuan rumah dari NGO-NGO di sini, orang-orang yang punya tanah," akunya pada detikcom, Sabtu (17/12/2005). Sebenarnya kata Usman, tidak mendapat bantuan rumah bukanlah hal yang paling merisaukannya. Hal yang paling mengganggunya selama satu tahun belakangan ini adalah usahanya yang menemukan jalan buntu untuk mendapat pinjaman modal demi membuka kembali usaha bengkel sepeda motornya. "Saya ini entah sudah kemana-mana saja. Hampir semua NGO asing yang ada di Meulaboh ini sudah saya datangi. Proposal juga sudah saya masukkan tapi belum juga ada jawaban. Rasanya saya sudah patah semangat, karena mereka hanya menyuruh saya menunggu dan mereka hanya berjanji-janji saja," keluhnya.Pernah ada satu NGO yang mau memberikan bantuan modal untuk usahanya, tapi syaratnya harus berkelompok. Dalam satu unit usaha harus ada 10 orang. "Sementara untuk di Desa Panggong ini, cuma saya sendiri yang bekerja sebagai orang bengkel sepeda motor, tidak ada yang lainnya. Kalau tetap diminta sepuluh orang, sampai kiamat pun tidak akan ada," ujarnya kesal. Karena itu pula, beberapa bulan setelah tsunami, Usman sempat beralih profesi sebagai penjual besi dan plastik bekas tsunami. Tapi seiring semakin bersihnya Kota Meulaboh dari barang-barang bekas tsunami, Usman kembali kehilangan mata pencahariannya. Kini, Usman hanya menjadi pekerja di sebuah bengkel sepeda motor milik kawannya. Dari pekerjaannya ini, Usman dibayar Rp 30 ribu per hari. Dengan uang itu, nyaris Usman tidak bisa menabung untuk membayar sewa rumah untuk tahun berikutnya. Apalagi, tiga pekan lalu, isterinya, Elisa (32) telah melahirkan bayi kembar perempuan. Meski merasa bahagia dengan kehadiran dua orang bayi sekaligus setelah kehilangan dua anak perempuannya- tak urung hatinya menyimpan sejuta kecemasan. "Kemarin saya terpaksa menjual beras bantuan untuk menutupi keperluan sekolah anak. Kadang-kadang kalau anak saya minta uang untuk biaya buku, atau ini itu, saya bilang sama mereka, nak, apalagi yang bisa kita jual ya," katanya sembari tersenyum kecut. Sepupunya yang kini tinggal bersama mereka sudah pindah rumah, orang tuanya juga akan pindah ke salah satu rumah anak mereka yang lain. Sedangkan adik perempuannya juga berniat pisah dengan keluarga Usman setelah masa sewa rumah yang mereka tempati bersama ini habis masa sewanya. Jadi, jika akan kembali menyewa rumah, maka Usman sendiri yang harus menanggung sewanya. Tidak urunan seperti sebelumnya."Rasa-rasanya sulit untuk punya uang sewa rumah. Hampir tidak mungkin. Karena itulah saya udah bilang sama isteri dan anak-anak, kalau terpaksa kita akan balik ke tenda pengungsian. Memang tidak mungkin rasanya apalagi dengan adanya si kembar. Tapi mau bagaimana lagi?" ucapnya. Setahun setelah tsunami, kehidupan Usman belum juga membaik, malah nyaris mundur ke belakang. Usman adalah salah satu dari sekian banyak keluarga yang tak tersentuh proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang terjadi di Aceh. (ahm/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads