Anies Frustrasi ke Kemenkes soal Penanganan Corona, Bukan ke Jokowi

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 11 Mei 2020 16:26 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi sejumlah menteri, menggelar rapat bersama pejabat daerah membahas pencegahan dan penangananbanjir Jabotabek, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (08/01/2020). Hadir pejabat daerah antara lain Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Banten, Wahidin Halid, Walikota Bekasi, Rahmat Effendi, dan Bupati Bogor Ade Yasin.
Gubernur Jakarta Anies Baswedan (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengaku frustrasi terhadap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dipimpin Terawan Agus Putranto. Soalnya, Anies pernah kesulitan menerapkan pembatasan sosial lebih dini karena Kemenkes sempat menyatakan tak ada kasus virus Corona di Indonesia.

Cerita ini disampaikan Anies dalam video yang diunggah kanal YouTube Pemprov DKI, yang berisi tayangan wawancara telekonferensi dengan wartawan The Sydney Morning Herald, James Massola. Video ini dilihat detikcom pada Senin (11/5/2020).

Awalnya, James Massola menanyakan bagaimana hubungan Anies dengan Jokowi di masa penanganan COVID-19 ini. Anies menjawab hubungannya dengan Jokowi baik-baik saja, rapat lewat Zoom dilakukan bersama hampir tiap pekan.

"Oh ya, hubungan kami baik. Kami mengadakan pertemuan lewat Zoom hampir setiap pekan. Kami berkomunikasi dengan baik. Mungkin saya harus mengatakan ini lebih kepada soal antara kami dengan Kementerian Kesehatan, itu lebih sebagai frustrasi," kata Anies dalam wawancara yang dilakukan tanggal 6 Mei ini.

Pemprov DKI harus menekankan kebijakan pembatasan interaksi di lingkup Jakarta. Itu demi mencegah penularan COVID-19. Pada 6 Januari, Pemprov DKI sudah mengadakan pertemuan dengan 180 rumah sakit di Jakarta untuk merespons isu pneumonia Wuhan, nama penyakit akibat virus Corona jenis baru saat itu, karena nama COVID-19 belum ditetapkan. Semua perangkat Pemprov DKI diberi tugas untuk menangkal Corona.

"Saat angka (pasien bergejala pneumonia Wuhan) mulai naik terus, pada saat itu kita tidak diperbolehkan melakukan tes. Jadi ketika kami ada kasus, kami mengirimkan sampel ke laboratorium nasional. Kemudian, laboratorium nasional akan mengabarkan apakah hasilnya positif atau negatif," kata Anies.

Selanjutnya
Halaman
1 2